.....:::::Di blog exyezet banyak trik yang sangat menarik dan gampang untuk di pelajari, apabila ada kesulitan tanyakan saja pada exyezet . Terima kasih::::....
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Dewasa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Agustus 2011

Saat Bersama Tanteku

“Kriing..” jam di meja memaksa aku untuk memicingkan mata. “Wah gawat, telat nih” dengan tergesa-gesa aku bangun lalu lari ke kamar mandi. Pagi itu aku ada janji untuk menjaga rumah tanteku. Oh ya, tanteku ini orangnya cantik dengan wajah seperti artis sinetron, namanya Ninik. Tinggi badan 168, payudara 34, dan tubuh yang langsing. Sejak kembali dari Malang, aku sering main ke rumahnya. Hal ini aku lakukan atas permintaan tante Ninik, karena suaminya sering ditugaskan ke luar pulau. Oh ya, tante Ninik mempunyai dua anak perempuan Dini dan Fifi. Dini sudah kelas 2 SMA dengan tubuh yang langsing, payudara 36B, dan tinggi 165. Sedangkan Fifi mempunyai tubuh agak bongsor untuk gadis SMP kelas 3, tinggi 168 dan payudara 36. Setiap aku berada di rumah tante Fifi aku merasa seperti berada di sebuah harem. Tiga wanita cantik dan seksi yang suka memakai baju-baju transparan kalau di rumah. Kali ini aku akan ceritakan pengalamanku dengan tante Ninik di kamarnya ketika suaminya sedang tugas dinas luar pulau untuk 5 hari. Hari Senin pagi, aku memacu motorku ke rumah tante Ninik. Setelah perjalanan 15 menit, aku sampai di rumahnya. Langsung aku parkir motor di teras rumah. Sepertinya Dini dan Fifi masih belum berangkat sekolah, begitu juga tante Ninik belum berangkat kerja. “Met pagi semua” aku ucapkan sapaan seperti biasanya. “Pagi, Mas Firman. Lho kok masih kusut wajahnya, pasti baru bangun ya?” Fifi membalas sapaanku. “Iya nih kesiangan” aku jawab sekenanya sambil masuk ke ruang keluarga. “Fir, kamu antar Dini dan Fifi ke sekolah ya. Tante belum mandi nih. Kunci mobil ada di tempat biasanya tuh.” Dari dapur tante menyuruh aku. “OK Tante” jawabku singkat. “Ayo duo cewek paling manja sedunia.” celetukku sambil masuk ke mobil. Iya lho, Dini dan Fifi memang cewek yang manja, kalau pergi selalu minta diantar. “Daag Mas Firman, nanti pulangnya dijemput ya.” Lalu Dini menghilang dibalik pagar sekolahan. Selesai sudah tugasku mengantar untuk hari ini. Kupacu mobil ke rumah tante Ninik. Setelah parkir mobil aku langsung menuju meja makan, lalu mengambil porsi tukang dan melahapnya. Tante Ninik masih mandi, terdengar suara guyuran air agak keras. Lalu hening agak lama, setelah lebih kurang lima menit tidak terdengar gemericik air aku mulai curiga dan aku hentikan makanku. Setelah menaruh piring di dapur. Aku menuju ke pintu kamar mandi, sasaranku adalah lubang kunci yang memang sudah tidak ada kuncinya. Aku matikan lampu ruang tempatku berdiri, lalu aku mulai mendekatkan mataku ke lubang kunci. Di depanku terpampang pemandangan alam yang indah sekali, tubuh mulus dan putih tante Ninik tanpa ada sehelai benang yang menutupi terlihat agak mengkilat akibat efek cahaya yang mengenai air di kulitnya. Ternyata tante Ninik sedang masturbasi, tangan kanannya dengan lembut digosok-gosokkan ke vaginanya. Sedangkan tangan kiri mengelus-elus payudaranya bergantian kiri dan kanan. Terdengar suara desahan lirih, “Hmm, ohh, arhh”. Kulihat tanteku melentingkan tubuhnya ke belakang, sambil tangan kanannya semakin kencang ditancapkan ke vagina. Rupanya tante Ninik ini sudah mencapai orgasmenya. Lalu dia berbalik dan mengguyurkan air ke tubuhnya. Aku langsung pergi ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Aku tepis pikiran-pikiran porno di otakku, tapi tidak bisa. Tubuh molek tante Ninik, membuatku tergila-gila. Aku jadi membayangkan tante Ninik berhubungan badan denganku. “Lho Fir, kamu lagi apa tuh kok tanganmu dimasukkan celana gitu. Hayo kamu lagi ngebayangin siapa? Nanti aku bilang ke ibu kamu lho.” Tiba-tiba suara tante Ninik mengagetkan aku. “Kamu ini pagi-pagi sudah begitu. Mbok ya nanti malam saja, kan enak ada lawannya.” Celetuk tante Ninik sambil masuk kamar. Aku agak kaget juga dia ngomong seperti itu. Tapi aku menganggap itu cuma sekedar guyonan. Setelah tante Ninik berangkat kerja, aku sendirian di rumahnya yang sepi ini. Karena masih ngantuk aku ganti celanaku dengan sarung lalu masuk kamar tante dan langsung tidur. “Hmm.. geli ah” Aku terbangun dan terkejut, karena tante Ninik sudah berbaring di sebelahku sambil tangannya memegang Mr. P dari luar sarung. “Waduh, maafin tante ya. Tante bikin kamu terbangun.” Kata tante sambil dengan pelan melepaskan pegangannya yang telah membuat Mr. P menegang 90%. “Tante minta ijin ke atasan untuk tidak masuk hari ini dan besok, dengan alasan sakit. Setelah ambil obat dari apotik, tante pulang.” Begitu alasan tante ketika aku tanya kenapa dia tidak masuk kerja. “Waktu tante masuk kamar, tante lihat kamu lagi tidur di kasur tante, dan sarung kamu tersingkap sehingga celana dalam kamu terlihat. Tante jadi terangsang dan pingin pegang punya kamu. Hmm, gedhe juga ya Mr. P mu” Tante terus saja nyerocos untuk menjelaskan kelakuannya. “Sudahlah tante, gak pa pa kok. Lagian Firman tahu kok kalau tante tadi pagi masturbasi di kamar mandi” celetukku sekenanya. “Lho, jadi kamu..” Tante kaget dengan mimik setengah marah. “Iya, tadi Firman ngintip tante mandi. Maaf ya. Tante gak marah kan?” agak takut juga aku kalau dia marah. Tante diam saja dan suasana jadi hening selama lebih kurang 10 menit. Sepertinya ada gejolak di hati tante. Lalu tante bangkit dan membuka lemari pakaian, dengan tiba-tiba dia melepas blaser dan mengurai rambutnya. Diikuti dengan lepasnya baju tipis putih, sehingga sekarang terpampang tubuh tante yang toples sedang membelakangiku. Aku tetap terpaku di tempat tidur, sambil memegang tonjolan Mr. P di sarungku. Bra warna hitam juga terlepas, lalu tante berbalik menghadap aku. Aku jadi salah tingkah. “Aku tahu kamu sudah lama pingin menyentuh ini..” dengan lembut tante berkata sambil memegang kedua bukit kembarnya. “Emm.., nggak kok tante. Maafin Firman ya.” Aku semakin salah tingkah. “Lho kok jadi munafik gitu, sejak kapan?” tanya tanteku dengan mimik keheranan. “Maksud Firman, nggak salahkan kalau Firman pingin pegang ini..!” Sambil aku tarik bahu tante ke tempat tidur, sehingga tante terjatuh di atas tubuhku. Langsung aku kecup payudaranya bergantian kiri dan kanan. “Eh, nakal juga kamu ya.. ihh geli Fir.” tante Ninik merengek perlahan. “Hmm..shh” tante semakin keras mendesah ketika tanganku mulai meraba kakinya dari lutut menuju ke selangkangannya. Rok yang menjadi penghalang, dengan cepatnya aku buka dan sekarang tinggal CD yang menutupi gundukan lembab. Sekarang posisi kami berbalik, aku berada di atas tubuh tante Ninik. Tangan kiriku semakin berani meraba gundukan yang aku rasakan semakin lembab. Ciuman tetap kami lakukan dibarengi dengan rabaan di setiap cm bagian tubuh. Sampai akhirnya tangan tante masuk ke sela-sela celana dan berhenti di tonjolan yang keras. “Hmm, boleh juga nih. Sepertinya lebih besar dari punyanya om kamu deh.” tante mengagumi Mr. P yang belum pernah dilihatnya. “Ya sudah dibuka saja tante.” pintaku. Lalu tante melepas celanaku, dan ketika tinggal CD yang menempel, tante terbelalak dan tersenyum. “Wah, rupanya tante punya Mr. P lain yang lebih gedhe.” Gila tante Ninik ini, padahal Mr. P-ku belum besar maksimal karena terhalang CD. Aksi meremas dan menjilat terus kami lakukan sampai akhirnya tanpa aku sadari, ada hembusan nafas diselangkanganku. Dan aktifitas tante terhenti. Rupanya dia sudah berhasil melepas CD ku, dan sekarang sedang terperangah melihat Mr. P yang berdiri dengan bebas dan menunjukkan ukuran sebenarnya. “Tante.. ngapain berhenti?” aku beranikan diri bertanya ke tante, dan rupanya ini mengagetkannya. “Eh.. anu.. ini lho, punya kamu kok bisa segitu ya..?” agak tergagap juga tante merespon pertanyaanku. “Gak panjang banget, tapi gemuknya itu lho.. bikin tante merinding” sambil tersenyum dia ngoceh lagi. Tante masih terkesima dengan Mr. P-ku yang mempunyai panjang 14 cm dengan diameter 4 cm. “Emangnya punya om gak segini? ya sudah tante boleh ngelakuin apa aja sama Mr. P ku.” Aku ingin agar tante memulai ini secepatnya. “Hmm, iya deh.” Lalu tante mulai menjilat ujung Mr. P. Ada sensasi enak dan nikmat ketika lidah tante mulai beraksi naik turun dari ujung sampai pangkal Mr. P “Ahh.. enak tante, terusin hh.” aku mulai meracau. Lalu aku tarik kepala tante Ninik sampai sejajar dengan kepalaku, kami berciuman lagi dengan ganasnya. Lebih ganas dari ciuman yang pertama tadi. Tanganku beraksi lagi, kali ini berusaha untuk melepas CD tante Ninik. Akhirnya sambil menggigit-gigit kecil puting susunya, aku berhasil melepas penutup satu-satunya itu. Tiba-tiba, tante merubah posisi dengan duduk di atas dadaku. Sehingga terpampang jelas vaginanya yang tertutup rapat dengan rambut yang dipotong rapi berbentuk segitiga. “Ayo Fir, gantian kamu boleh melakukan apa saja terhadap ini.” Sambil tangan tante mengusap vaginanya. “OK tante” aku langsung mengiyakan dan mulai mengecup vagina tante yang bersih. “Shh.. ohh” tante mulai melenguh pelan ketika aku sentuh klitorisnya dengan ujung lidahku. “Hh.. mm.. enak Fir, terus Fir.. yaa.. shh” tante mulai berbicara tidak teratur. Semakin dalam lidahku menelusuri liang vagina tante. Semakain kacau pula omongan tante Ninik. “Ahh..Fir..shh..Firr aku mau keluar.” tante mengerang dengan keras. “Ahh..” erangan tante keras sekali, sambil tubuhnya dilentingkan ke kebelakang. Rupanya tante sudah mencapai puncak. Aku terus menghisap dengan kuat vaginanya, dan tante masih berkutat dengan perasaan enaknya. “Hmm..kamu pintar Fir. Gak rugi tante punya keponakan seperti kamu. Kamu bisa jadi pemuas tante nih, kalau om kamu lagi luar kota. Mau kan?” dengan manja tante memeluk tubuhku. “Ehh, gimana ya tante..” aku ngomgong sambil melirik ke Mr. P ku sendiri. “Oh iya, tante sampai lupa. Maaf ya” tante sadar kalau Mr. P ku masih berdiri tegak dan belum puas. Dipegangnya Mr. P ku sambil bibirnya mengecup dada dan perutku. Lalu dengan lembut tante mulai mengocok Mr. P. Setelah lebih kurang 15 menit tante berhenti mengocok. “Fir, kok kamu belum keluar juga. Wah selain besar ternyata kuat juga ya.” tante heran karena belum ada tanda-tanda mau keluar sesuatu dari Mr.Pku. Tante bergeser dan terlentang dengan kaki dijuntaikan ke lantai. Aku tanggap dengan bahasa tubuh tante Ninik, lalu turun dari tempat tidur. Aku jilati kedua sisi dalam pahanya yang putih mulus. Bergantian kiri-kanan, sampai akhirnya dipangkal paha. Dengan tiba-tiba aku benamkan kepalaku di vaginanya dan mulai menyedot. Tante menggelinjang tidak teratur, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan menahan rasa nikmat yang aku berikan. Setelah vagina tante basah, tante melebarkan kedua pahanya. Aku berdiri sambil memegang kedua pahanya. Aku gesek-gesekkan ujung Mr. P ke vaginanya dari atas ke bawah dengan pelan. PErlakuanku ini membuat tante semakin bergerak dan meracau tidak karuan. “Tante siap ya, aku mau masukin Mr. P” aku memberi peringatan ke tante. “Cepetan Fir, ayo.. tante sudah gak tahan nih.” tante langsung memohon agar aku secepatnya memasukkan Mr. P. Dengan pelan aku dorong Mr. P ke arah dalam vagina tante Ninik, ujung kepalaku mulai dijepit bibir vaginanya. Lalu perlahan aku dorong lagi hingga separuh Mr. P sekarang sudah tertancap di vaginanya. Aku hentikan aktifitasku ini untuk menikmati moment yang sangat enak. Pembaca cobalah lakukan ini dan rasakan sensasinya. Pasti Anda dan pasangan akan merasakan sebuah kenikmatan yang baru. “Fir, kok rasanya nikmat banget.. kamu pintar ahh.. shh” tante berbicara sambil merasa keenakan. “Ahh.. shh mm, tante ini cara Firman agar tante juga merasa enak” Aku membalas omongan tante. Lalu dengan hentakan lembut aku mendorong semua sisa Mr. P ke dalam vagina tante. “Ahh..” kami berdua melenguh. Kubiarkan sebentar tanpa ada gerakan, tetapi tante rupanya sudah tidak tahan. Perlahan dan semakin kencang dia menggoyangkan pinggul dan pantatnya dengan gerakan memutar. Aku juga mengimbanginya dengan sodokan ke depan. Vagina tante Ninik ini masih kencang, pada saat aku menarik Mr. P bibir vaginanya ikut tertarik. “Plok.. plok.. plokk” suara benturan pahaku dengan paha tante Ninik semakin menambah rangsangan. Sepuluh menit lebih kami melakukan gaya tersebut, lalu tiba-tiba tante mengerang keras “Ahh.. Fir tante nyampai lagi” Pinggulnya dirapatkan ke pahaku, kali ini tubuhnya bergerak ke depan dan merangkul tubuhku. Aku kecup kedua payudaranya. dengan Mr. P masih menancap dan dijepit Vagina yang berkedut dengan keras. Dengan posisi memangku tante Ninik, kami melanjutkan aksi. Lima belas menit kemudian aku mulai merasakan ada desakan panas di Mr. P. “Tante, aku mau keluar nih, di mana?” aku bertanya ke tante. “Di dalam aja Fir, tante juga mau lagi nih” sahut tante sambil tubuhnya digerakkan naik turun. Urutan vaginanya yang rapat dan ciuman-ciumannya akhirnya pertahananku mulai bobol. “Arghh.. tante aku nyampai”. “Aku juga Fir.. ahh” tante juga meracau. Aku terus semprotkan cairan hangat ke vagina tante. setelah delapan semprotan tante dan aku bergulingan di kasur. Sambil berpelukan kami berciuman dengan mesra. “Fir, kamu hebat.” puji tante Ninik. “Tante juga, vagina tante rapet sekali” aku balas memujinya. “Fir, kamu mau kan nemani tante selama om pergi” pinta tante. “Mau tante, tapi apa tante gak takut hamil lagi kalau aku selalu keluarkan di dalam?” aku balik bertanya. “Gak apa-apa Fir, tante masih ikut KB. Jangan kuatir ya sayang” Tante membalas sambil tangannya mengelus dadaku. Akhirnya kami berpagutan sekali lagi dan berpelukan erat sekali. Rasanya seperti tidak mau melepas perasaan nikmat yang barusan kami raih. Lalu kami mandi bersama, dan sempat melakukannya sekali lagi di kamar mandi. ***** Itulah pengalamanku dengan tante Ninik. Ternyata enak juga bermain dengan wanita yang berumur 40-an. Semenjak itu aku sering dapat telepon ajakan untuk berkencan dengan tante-tante. Rupanya tante Ninik menceritakan hal kehebatanku kepada teman-temannya.
Photobucket
Read More

Pembantu Baru Neneng Namanya

Pagi itu, setelah bermain golf di Ciracas, badanku terasa gerah dan lelah sekali karena, aku menyelesaikan delapan belas hole, biasanya aku hanya sanggup bermain sembilan hole, tetapi karena Ryan memaksaku untuk meneruskan permainan, maka aku jadi kelelahan seperti sekarang ini. Kupanggil Marni pembantuku yang sudah biasa memijatku, aku benar-benar merasa lelah karena semalamnya aku sempat dua kali “bertempur” dengan kenalanku di Mandarin, pasti nikmat rasanya dipijat dan selanjutnya berendam di air panas, langsung aku membuka pakaianku hingga hanya tinggal celana dalam dan langsung berbaring di atas tempat tidurku. Namun agak lama juga Marni tak muncul di kamarku memenuhi panggilanku melalui interkom tadi, biasanya Marni sangat senang bila aku suruh memijat karena disamping persenan dariku besar, dia juga sering kupijat balik yang membuat dia juga dapat merasakan kenikmatan yang satu itu. Ketika kudengar langkah memasuki kamarku, aku langsung berkata, “Kok lama sih Mar, apa masih sibuk ya, ayo pijat yang nikmat!”. Tiba-tiba kudengar suara perempuan lain, “Maaf Pak, Mbak Marni masih belum kembali, apa bisa saya saja yang memijat?”. Aku meloncat duduk dan menoleh ke arahnya, ternyata di depanku berdiri pembantu lain yang belum pernah kukenal. Kuperhatikan pembantu baru ini dengan seksama, wajahnya manis khas gadis desa, dengan bibir tipis yang merangsang sekali. Ia tersenyum gugup ketika melihat aku memperhatikannya dari atas ke bawah itu. Aku tak peduli, mataku jalang menatap belahan dasternya yang agak rendah sehingga menampakkan sebagian payudaranya yang montok itu. Dengan pelan kutanyai siapa namanya dan kapan mulai bekerja. Ternyata dia adalah famili Marni dari Kerawang namanya Neneng dan dia ke Jakarta karena ingin bekerja seperti Marni. Aku hanya mengangguk-angguk saja, ketika kutanya apakah dia bisa memijat seperti Marni, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kuperintahkan dia untuk menutup pintu kamar, sebenarnya tidak perlu pintu kamar itu ditutup karena pasti tak ada seorangpun di rumah, isteriku juga sedang pergi entah ke mana dan pasti malam hari baru pulang, tujuanku hanyalah menguji Neneng, apakah dia takut dengan aku atau benar-benar berani. Kuambil cream untuk menggosok tubuhku dan kuberikan pada Neneng sambil berkata “Coba gosok dulu badanku dengan minyak ini, baru nanti dipijat ya!”. Aku membuka celana dalamku dan langsung telungkup di tempat tidur, sengaja pada waktu berjalan aku menghadap Neneng sehingga Neneng dapat juga melihat penisku, ternyata dia diam saja. Ketika aku sudah berbaring, dia langsung membubuhkan lotion itu di punggungku dan menggosokannya ke punggungku. Sambil memejamkan mata menikmati elusan tangan Neneng yang halus, aku mengingatkan dia agar menggosoknya rata ke seluruh badanku. Sambil berbaring aku minta Neneng menceriterakan tentang dirinya. Ternyata Neneng seorang janda yang belum mempunyai anak, suaminya lari dengan perempuan lain yang kaya raya dan meninggalkan dia. Karena itu dia lebih suka ke Jakarta karena malu. Aku berkata kepadanya, “Jangan kuatir, kalau begitu kapan-kapan kamu mesti kembali ke desamu dengan banyak uang supaya bekas suamimu tahu kalau kamu sekarang sudah kaya dan bisa membeli laki-laki untuk jadi suamimu!”. Neneng tertawa mendengar perkataanku itu. Ketika itu Neneng sudah mulai menggosok bagian pantatku dengan lotion, tangannya dengan lembut meratakan lotion tersebut ke seluruh pantatku bahkan juga di sela-sela pantatku diberinya lotion itu sehingga kadang-kadang tangannya menyenggol ujung pelirku. Aku jadi tegang dengan gosokan Neneng ini, tetapi aku diam saja namun akibatnya posisiku jadi tidak enak, karena posisiku yang tengkurap membuat penisku yang berdiri tegak itu jadi tertekan dan sakit sekali. Aku jadi gelisah karena penisku rasanya mengganjal. Neneng yang melihat aku gelisah itu bertanya apakah gosokannya kurang betul. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. Ketika aku bertanya lagi apakah isteri baru suaminya itu cantik, Neneng hanya menjawab dengan tertawa katanya, “Cantik atau tidak yang penting uangnya banyak, kan suami saya bisa numpang nikmat!”, Ketika Neneng sudah menggosok badanku sampai ke kaki, dia bertanya, “Apa sekarang mulai dipijat pak?”. Aku langsung berbalik telentang sambil berkata, “Sekarang yang bagian depan juga diberi minyak ya!”. Aku sengaja memejamkan mata sehingga aku tak tahu bagaimana sikap Neneng melihat bagian depan tubuhku yang telanjang itu, apalagi penisku sudah berdiri penuh mendongak ke atas dengan ujungnya yang seperti jamur raksasa itu. Neneng tidak banyak berbicara, tetapi ia mulai menggosok bagian dadaku dengan lotion yang harum itu, ketika aku membuka mata, kulihat buah dadanya yang montok tepat berada di depan mataku, bahkan karena potongan dusternya rendah, aku bisa melihat celah buah dadanya yang terjepit diantara beha yang dipakainya. Ketika gosokan Neneng sampai di selangkanganku, Neneng membubuhi sekitar bulu penisku dengan lotion tersebut, begitu juga dengan buah pelirku yang dengan lembut diberinya lotion tersebut. Saat itu Neneng berkata “maaf pak, apakah burungnya juga digosok?”. Aku tak menyahut tetapi aku hanya mengangguk saja. Tanpa ragu Neneng membubuhi ujung penisku dengan lotion tersebut, terasa dingin, kemudian Neneng mulai meratakannya ke seluruh batang penisku dengan lembut sekali, bahkan dia menarik kulit penisku sehingga lekukan di antara kepala dan batang kenikmatanku juga diberinya minyak. Ketika itulah aku membuka mataku dan memandang Neneng, ketika dilihatnya aku memandangnya, Neneng tersenyum dan tertunduk sementara tangannya terus mengurut penisku itu. Aku sudah tak kuat lagi menahan keinginanku, kutahan tangannya dan kusuruh Neneng untuk membuka pakaiannya. Neneng yang sudah janda rupanya langsung paham dengan keinginanku, wajahnya memerah, tetapi ia langsung bangkit dan membuka dusternya. Aku duduk di tepi tempat tidur memperhatikan badan Neneng yang hanya dilapisi beha mini dan celana dalam mini yang kurasa pasti pemberian isteriku. Buah dadanya membusung keluar karena beha yang diberikan isteriku nampaknya kekecilan sehingga tak dapat menampung payudaranya yang montok itu. Aku berdiri mendekati Neneng dan kupeluk dia serta kubuka pengait behanya, payudaranya yang montok dan kenyal itu tergantung bebas menampakkan garis merah bekas terjepit beha yang kekecilan itu, tetapi payudaranya sungguh kenyal dan gempal sama sekali tidak turun dengan putingnya yang mendongak ke atas. Ketika kurogoh celana dalamnya kurasakan bulu vaginanya cukup rimbun sementara ketika jariku menyentuh clitorisnya, Neneng seperti terlonjak dan merapatkan badannya ke dadaku, kurasakan vagina Neneng kering sekali sama sekali tak berair. Kukecup puting susu Neneng sambil kedua tanganku menurunkan celana dalamnya itu. Ketika kutarik Neneng ke tempat tidur, Neneng meronta katanya, “Pak saya takut hamil!” Kujawab enteng, jangan kuatir, kalau hamil tanggung jawab Bapak!”. Mendengar hal ini barulah dia mau kubaringkan di atas tempat tidurku, sambil menutupi matanya dengan tangan. Kupuaskan mataku memandang kemolekan gadis desa ini, aku langsung menyerbu vaginanya yang ditutupi bulu yang cukup rimbun itu, kuciumi dan kugigit pelahan bukit cembung yang penuh bulu itu, Neneng merintih pelan, apalagi ketika tanganku mulai mengembara menyentuh puting susunya. Neneng hanya menggigit bibir sementara tangannya tetap menutupi wajahnya, mungkin dia masih malu. Ketika aku berhasil menemukan clitorisnya, aku langsung menjilatinya begitu juga dengan bibir vaginanya kujadikan sasaran jilatan. Mungkin karena merasa geli yang tak tertahankan, tangan Neneng mendorong pundakku agar aku tak meneruskan gerakanku itu, begitu juga dengan pahanya yang terus akan dirapatkan, tetapi semua ikhtiar Neneng tak berhasil karena tanganku menahan agar kedua pahanya itu tak merapat. Akibatnya Neneng hanya bisa menggerak gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan geli. Tetapi lama-kelamaan justru aku yang jadi tak tahan dengan semua ini, kuhentikan jilatanku dan segera kutindih Neneng sambil mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Melihat aku kesulitan memasukkan ujung penisku, Neneng dengan malu-malu menuntun penisku ke arah liangnya dan menepatkannya di ujung bibir vaginanya. Ketika itu dia berbisik, “Sudah pas pak”. Aku langsung mendorong pantatku agar supaya penisku bisa masuk yang disambut juga oleh Neneng dengan sedikit mengangkat pahanya sehingga.., sleep.., bles.., penisku terbenam seluruhnya di liang vagina Neneng yang seret itu, belum sempat aku menggerakkan penisku, Neneng sudah mulai memutar mutar pantatnya sehingga ujung penisku rasanya seperti dilumat oleh liang vagina Neneng itu. Aku mendengus keenakan, bibirku mencari puting susu Neneng dan mulai mengulumnya. Sambil mendesah desah Neneng berkata, “Ayo pak, digoyang, biar sama sama nikmat nya!”. Aku terkejut melihat keberanian Neneng menyuruh aku bekerja sama dalam permainan ini. Tetapi justru ini membuat aku makin terangsang, meskipun profesinya hanya pembantu, tetapi cara main Neneng benar benar memuaskan. Vaginanya tak henti henti meremas penisku membuat aku jadi ngilu, aku sudah paham bahwa orang desa secara naluri sudah mempunyai kemampuan seks yang hebat, jadi untuk aku kemampuan Neneng benar benar sulit dicari bandingannya. Ketika kurasakan air maniku hampir memancar, aku berbisik pada Neneng agar berhenti menggoyang pantatnya supaya aku dapat lebih merasakan kenikmatan ini. Tetapi Neneng justru makin cepat menggoyangkan pantatnya serta meremas-remas penisku sehingga tanpa dapat ditahan lagi air maniku memancar dengan derasnya memenuhi vagina Neneng. Saat itu juga Neneng mencengkeram punggungku keras keras dan kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat sekali, matanya terbeliak sambil mendesis. Rupanya aku dan Neneng mencapai puncaknya pada saat yang bersamaan. Setelah beberapa menit diam, kurasakan Neneng pelan pelan mulai meremas-remas punggungku sambil menempelkan pipinya ke pipiku. Dengan tersipu-sipu dia bercerita kalau dia senang bisa mendapat rejeki ditiduri olehku, karena sejak di desa dulu dia memang nafsunya besar, sehingga suaminya sampai kerepotan melayani nafsunya yang luar biasa itu. Sekarang ini dia benar-benar baru merasakan puas yang sebenarnya setelah main denganku. Aku terhanyut oleh caranya yang mesra itu, namun aku tak ingin main lagi saat itu karena aku tadinya benar-benar hanya mau pijat dan melemaskan ototku, kalau sampai harus seperti ini, semuanya hanya gara-gara ada vagina baru di rumah yang tentunya tak dapat aku biarkan. Setelah kuberi dia uang 200 ribu, kusuruh Neneng keluar, Neneng sangat terkejut melihat jumlah uang yang kuberikan, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamarku. Sekeluarnya Neneng, aku kembali berbaring telanjang bulat diatas ranjangku sambil memejamkan mata, badanku terasa enteng karena terlalu banyak seks. Tamat
Photobucket
Read More

Tempat Kos Temanku

Cerita ini terjadi waktu aku datang ke wisudanya di Manggala Wana Bakti, nah setelah selesai di wisuda ceritanya aku dan dia itu ke tempat kostnya di daerah Palmerah. Nama temanku Tina (sudah disamarkan). Secara garis besar dia adalah seorang gadis yang cantik dengan ukuran dada 36B, lalu dengan tinggi 159 cm dan berat 48 kg, dan rambut hitam legam sepundak, memang 2 tahun lebih tua dari aku, aku kenal sama dia pas waktu dia mengulang salah satu mata kuliah di semester 2 sejak itu aku cukup akrab dengan dia, dan dia adalah satu-satunya orang yang tahu pengalaman misteriusku dengan Vita. Tina adalah anak seorang pengusaha sukses di Bali, tapi karena dia ingin sekali kuliah jurusan komputer di Jakarta, akhirnya dia kost di dekat kampus, karena memang Tina tidak mempunyai keluarga di Jakarta Sesampainya di tempat kostnya terus terang aku kagum banget karena rumah kost Tina itu bagus banget, memang sih Tina pernah bilang tempat kostnya tuh mahal sekali satu bulan bayarnya sekitar 600.000-an tapi aku tidak menyangka bahwa rumah kostnya sebagus ini, soalnya biasanya dimana-mana tempat kost identik dengan rumah sederhana, tapi kali ini ternyata aku melihat sebuah rumah kost yang megah. Akhirnya terpaksa aku menyudahkan lamunkanku karena aku mendengar teriakan 3 orang wanita, yang ternyata teman kostnya Tina, setelah itu aku dikenalkan Tina dengan ketiga teman kostnya itu. Nama ke tiga anak kost itu ada Silvi, Anna, Sonia. Silvi adalah seorang wanita yang aku perkirakan berusia sekitar 23 tahun, cukup cantik dengan rambut ikal sebahu. Anna seorang wanita berusia 22 tahun, mahasiswi tingkat akhir di kampus yang sama dengan aku dan Tina, walaupun tidak terlalu cantik tapi dada dan pantatnya terlihar padat dan menantang lalu Sonia seorang wanita yang berusia 24 tahun dan terlihat paling cantik diantara Silvi dan Anna. Singkat cerita akhirnya kami berlima pesta pora merayakan wisuda Tina, memang aku sempat tanya ada berapa anak kost di rumah ini menurut mereka ada 5 orang semuanya wanita tapi yang satu sekarang sedang pulang ke kampung halamannya. Lalu aku juga sempat tanya dimana majikannya, lalu kata mereka majikannya ada di Canada, dan segala keperluan rumah sudah diserahkan kepada seorang pembantu rumah tangga yang sengaja disiapkan disana. Lalu disela-sela obrolan kami, aku sempat melihat ada seorang gadis yang berusia sekitar 21 tahun keluar dari dalam, aku pikir ini juga anak kost disini karena dia terlihat amat cantik hanya bedanya kecantikan gadis yang baru kulihat ini lebih alami dan natural. Dan rupanya Tina melihatku sedang memperhatikan gadis itu sehingga dia berkata “Hei Tom, sudah donk masa lu ngeliatin si Susi saja”, “Oh, jadi dia namanya Susi toch, apa dia juga anak kost disini?” tanyaku. Eh mereka semua malah pada senyum, lalu Sonia bilang “Tommy…, Tommy…, sudah aku bilang disini cuma ada 5 orang plus 1 pembantu, dan sekarang teman kami yang satu sedang pulang kampung!”. “Jadi artinya Susi itu pembantu kalian donk”, potongku dan mereka semua menjawab serempak “Pinter”, dan setelah itu mereka mengolok-ngolokku, karena menurut mereka aku tuch naksir sama Susi. Lalu mungkin gara-gara itu kami jadi ngelantur bercerita tentang Susi, dan akhirnya mereka berempat mengajakku taruhan bisa tidak aku mengajak Susi yang masih virgin dan tidak pernah pergi sama laki-laki itu ML denganku. Aku sempat bilang lu orang pada gila yach, tapi karena aku diolok-olok dan dikatain chicken, dll akhirnya aku sanggupin juga dech untuk mencobanya, lalu aku bilang “Tapi dengan syarat lu orang harus membantu rencanaku, dan kalau aku berhasil taruhannya apa donk?” dan akhirnya setelah mikir sejenak Sonia bilang “Kalau kamu berhasil kamu boleh minta apa saja”, “Oke…” jawabku. Lalu aku bilang, “Aku punya rencana begini, nanti aku pura-pura sakit dan tidur di kamar Tina, terus lu suruh dia tolong kerokin aku, lalu pas lagi di kerokin aku akan suruh dia nyalahin VCD yang tentu saja isinya film bokep”. Dan akhirnya Tina dan Sonia yang menuju ke dalam mencari Susi, sedang aku Anna, dan Silvi menuju ke kamar Tina, disana aku tiduran sambil pura-pura pakai balsem, dan seperti orang masuk angin. Tidak beberapa lama kemudian, aku lihat Susi dan bersama Tina dan Sonia, lalu akhirnya mereka berempat keluar tinggal aku dan Susi berdua di kamar. Lalu aku dengar ada suara yang sangat lembut menyapaku “Ada apa Mas?”, lalu dengan gugup aku menyahut “Nggak nich Mbak, saya sepertinya masuk angin, bisa minta tolong kerokin nggak yach?”. “Boleh Mas”, jawab Susi lagi, lalu dia mengambil minyak kayu putih dan uang logam seratusan, dan dia menyuruh aku membuka baju lalu dia mulai mengeroki badanku. Dan seperti rencanaku akhirnya aku meminta tolong padanya mengambilkan remote, lalu aku menyalakan TV dan VCD. Dan setelah menyala, langsung dech terlihat adegan syur di TV, dan aku merasakan seketika itu juga uang logam yang dipegang Susi jatuh ke lantai, lalu aku bilang ke Susi. “Sus, maaf yach saya mau nonton film ini soalnya besok pagi sudah harus dikembaliin, kamu nggak ‘pa-’pa kan yach?”. Lalu dengan gugup aku lihat dia bilang “Nggakk pappaa kok, Mas”, lalu aku tanya lagi “Kamu pernah nonton film beginian Sus?”, “Dan dia bilang belum pernah, Mas”, lalu aku lihat dia mengambil duit logam dan kembali mengerokiku dan aku kembali menikmati adegan syur di depan mataku, tapi lama kelamaan aku merasakan kerokan Susi semakin melemah dan nafasnya kian memburu dan lalu aku pikir ini adalah saat terbaik untuk memulainya, lalu akhirnya tanganku mulai menyentuh pahanya, dan karena tidak ada reaksi menolak lalu tangan aku mulai semakin naik dan akhirnya sampai di payudaranya dan lagi-lagi dia diam, lalu aku langsung balik badan dan langsung memeluk dan menciumnya, dan karena dia masih virgin dia agak lama baru membalas ciumanku, dan walaupun tampak kaku, aku merasakan kenikmatan tersendiri, setelah itu aku mulai perlahan-lahan membuka kaos dan roknya, dan lalu aku mulai meremas-remas payudaranya yang hanya dilapisi oleh BH warna krem, dan aku lihat dia tuch meringis kenikmatan, dan setelah puas bermain di payudaranya tanganku segera kebawah dan meraba-raba CD-nya yang sudah basah, lalu aku mulai mengesekkan jariku perlahan-lahan dan aku lihat dia tuch semakin menggelinjang kenikmatan, setelah itu aku membuka CD-nya dan kemudian mulai menjilat-jilat liang kewanitaannya, dan mencari clitnya. Dan sewaktu lidahku bermain di dalam liang kewanitaannya tanganku kembali bergerak ke atas dan membuka BH-nya dan bermain di atas payudaranya 15 menit kemudian, aku sudahi permainanku di liang kewanitaannya, dan aku-pun mulai mencopot kemeja dan celanaku di depan Susi, dan mungkin karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya Susi diam saja, dan pas aku menurunkan CD-ku, Susi berteriak kecil “Ahh..” dan aku jadi kaget, dan aku bilang “Ada apa Sus?”, dan dia bilang “Saya ngeri ngeliat barang Mas”. Dan lalu dengan senyum aku bilang tidak apa-apa, lalu aku bawa tangannya ke penisku, dan lalu dengan malu-malu dia memegang penisku dan mengocoknya pelan-pelan. Dalam hati aku berkata wah nich anak pinter juga, baru sekali nonton BF tahu apa yang harus dilakukannya. Dan tidak beberapa lama kemudian aku suruh dia mengisap penisku, tapi mula-mula dia bilang nggak mau karena geli tapi karena terus di paksa akhirnya dia lakukan juga. Dan untuk seorang pemula hisapan Susi cukup hebat (walaupun tidak sehebat Vita), setelah puas aku lalu menyuruhnya udahan dan kemudian aku bersiap-siap untuk memasukkan penisku ke liang senggamanya, dan sesampainya di depan liang kenikmatannya dia langsung bangun dan bilang “Nggak boleh donk Mas kan saya masih perawan”. Dalam hati aku berkata sial nich cewek bisa kalah dech aku, tapi akhirnya aku nggak kehabisan akal lalu perlahan-lahan aku bilang kalau dia nggak mau yach sudah saya nggak masukin semua hanya ujungnya saja dan itu nggak merusak selaput daranya. Akhirnya dengan perjuangan keras aku diijinkan untuk memasukkan kepala penisku di liang surganya, dan lalu aku mulai memasukkannya perlahan-lahan. Dan seperti dugaanku liang senggamanya amat sempit sehingga aku agak menemui kesusahan memasukkan kepala penisku. Dan setelah masuk aku mulai menarik dan memasukkannya perlahan-lahan, dan seperti dugaanku Susi keenakan, dan dia lalu berkata “Mas masukkin semua donk masa kepalanya doank!” lalu dengan pura-pura bodoh aku bilang “Kata kamu kepalanya saja, tapi lalu dia bilang “Nggak ‘pa-’pa dech Mas ayo donk cepat Mas!”. Akhirnya aku memasukkan sisa penisku ke liang kewanitaannya. Setelah masuk aku mulai menggoyangkannya, beberapa menit kemudian aku menarik penisku dan menyuruh dia nungging dan aku melakukannya dengan posisi dog style, sekitar 10 menit kemudian aku dengar Susi bilang “Mas kok saya tiba-tiba mau pipis sich yach?” terus aku bilang “Kalau itu bukan pipis tapi tandanya kamu hampir orgasme”. Dan aku suruh dia tahan sebentar karena aku juga sudah mau keluar dan 3 menit kemudian aku keluar barengan dengan dia. Setelah itu aku dan dia jatuh ke ranjang, dan aku sempat lihat spermaku yang berceceran di lantai beserta beberapa bercak darah, setelah itu aku bilang terima kasih ke dia, dan dia lalu keluar kamar dan aku pun ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang penuh dengan keringat. Setelah aku selesai mandi, aku lalu keluar kamar dan aku nggak menemui Tina, dan ketiga kawannya di ruang depan, dan aku sempat clingak-clinguk dech nyariin mereka, dan tiba-tiba aku dengar ada suara yang memanggilku dari arah sebelah kiriku, “Tom, sini donk Tom, kita juga mau ngerasain barang kamu donk”. Spontan aku menghadap ke asal suara tersebut dan aku lihat Silvi yang sudah berada dalam keadaan polos memanggilku di muka pintu kamarnya. Langsung dech adikku yang tadinya sudah kembali tidur tegak lagi, dan segera aku menyamperi Silvi yang memang sudah menungguku, sesampainya di dalam kamar aku sampai kaget melihat ternyata di dalam kamar itu bukan hanya terdapat Silvi saja tetapi juga ada Tina, Sonia, dan Anna, hanya mereka bertiga masih berpakaian lengkap. Aku bilang ke Tina, “Tuch kan Tin, aku berhasil kan naklukin Susi” Iya dech Tom, kita percaya sekarang”. Setelah itu aku langsung bilang “Ayo sekarang aku minta hadiahku”. Lalu jawab mereka “Eloe minta hadiah apa?”. Langsung dech otakku mikir minta apa yach, terus aku bilang “Aku pengen tidur bareng kalian bertiga sekaligus”, dan reaksinya mereka berempat langsung teriak “Yes, siapa takut memang itu kok yang kami harapkan”, lalu Silvi sempat nambahin, “Tahu nggak Tom, kenapa aku bugil supaya lu nafsu lihat aku dan minta ML sama aku ternyata siasat aku berhasil, lagian tadi kan pas lu ML sama Susi kita pada ngintip lho”, dan aku langsung dech berpura-pura terkejut padahal sich aku tahu kok he he he, tapi aku diam saja sok cool. Setelah itu Anna, Tina dan Sonia mulai striptease di depanku sambil perlahan-lahan membuka bajunya satu persatu sampai mereka semua benar-benar bugil, dan akibatnya adikku yang memang dari tadi sudah bangun jadi semakin tegak, dan setelah mereka selesai dengan baju mereka sendiri mereka dengan ganas langsung menyerbuku, dan dengan penuh nafsu birahi, mereka mempreteli baju dan celanaku satu demi satu, dan ketika celana dalamku diturunkan mereka sempat terpesona melihat barangku, lalu tiba-tiba Tina menunduk dan langsung menjilat-jilat penisku sementara Anna langsung mengarahkan liang kewanitaannya ke mulutku yang langsung saja kusambut dengan jilatan-jilatan di sekitar liang kewanitaannya, sementara itu tanganku menggerayangi payudara Sonia, sementara itu pula Sonia menjilat payudara Silvi, lalu kami saling berganti-ganti posisi, setelah puas dengan gaya tersebut aku mulai bangkit dan mula-mula aku mengarahkan penisku ke arah liang kewanitaan Tina, dan sumpah aku menemui kesulitan untuk memasukkan penisku tersebut tapi dengan upaya keras akhirnya aku berhasil untuk memasukkannya, setelah beberapa lama aku dengar Tina merintih dengan keras dan akhirnya dia orgasme, lalu kucabut penisku dari liang senggamanya, dan aku sempat lihat ada bercak darah di penisku, dan aku sempat tanya “Tin, lu masih virgin yach?” dan Tina menjawab katanya “Kami berempat masih virgin Tom”, busyet aku hoki benar dalam semalam dapat 5 cewek masih virgin semua. Lalu aku mulai mencoba memasukkan penisku ke liang kewanitaan Silvi, kali ini aku lebih pelan-pelan dan santai, walaupun sulit tapi tidak sesulit sewaktu aku memasukkan penisku ke liang kewanitaan Tina, mungkin karena penisku sekarang sudah basah, dan kulihat liang kewanitaan Silvi pun sudah sangat basah, lalu aku kembali memaju mundurkan pantatku, sekitar 10 menit aku merasa bahwa spermaku akan segera keluar, lalu aku langsung menurunkan tempo goyanganku, dan segera aku mulai mengalihkan permainanku ke arah payudara Silvi, setelah beberapa lama aku kembali mulai mempercepat goyangan pantatku, tapi itupun tak bertahan lama karena 5 menit kemudian aku sudah ingin mengeluarkan sperma lagi, sebetulnya ingin aku tahan tapi karena aku kasihan sama Silvi orgasmenya tertunda melulu, terpaksa aku malah mempercepat laju permainanku dan 3 menit kemudian aku bilang sama dia “Aku sudah mau keluar nich, aku keluarin di dalam atau di luar?”. Lalu dia jawab “Di dalam saja”. Akhirnya aku dan dia keluar secara bersamaan. Setelah itu aku merebahkan diri ke tempat tidur, tapi baru sepuluh menit aku tiduran aku merasakan barangku saja yang dijilat-jilat, dan ternyata aku lihat kali ini Anna yang menjilat-jilat barangku, akhirnya adikku bangun lagi dech dan aku langsung melepas barangku dari mulutnya dan langsung mengarahkan barangku ke kemaluannya, dan kali ini aku kembali menemui kesulitan, karena liang kewanitaan Anna benar-benar sempit, dan kecil, penisku sampai perih rasanya, akhirnya dengan sedikit paksaan aku berhasil juga memasukkan barangku ke dalam liang surganya, sekitar 15 menit kemudian Anna teriak Tom, aku mau orgasme nich, dan aku langsung bilang “Tunggu donk aku juga sudah mau orgasme nich”. Akhirnya aku mempercepat pola permainan, dan akhirnya aku keluar barengan dia di dalam liang senggamanya. Setelah itu aku langsung tiduran lagi, tapi aku liat kali ini Sonia menyamperi aku dan bilang “Tom giliran aku kapan?” “terus aku bilang besok saja yach aku cape nich”. Tapi sebagai jawabnya dia malah merenggut dan langsung mengocok-ngocok barangku, dan secara perlahan barangku kembali bangun, setelah bangun secara maksimal, Sonia lalu berdiri dan duduk tepat diatas barangku sambil tangannya perlahan membuka bibir kemaluannya, dan aku merasakan perih di sekitar barangku, karena Sonia memasukkannya dengan agak keras, setelah itu dia mulai mengoyang-goyangkan pantatnya naik turun sambil sesekali dia mengoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang, karena merasa nikmat sekali nggak sampai 10 menit aku merasa aku sudah mau orgasme, dan aku bilang ke Sonia “Son, aku sudah mau orgasme nich”, dan sebagai jawabannya dia mencabut barangku dan mengulum kembali barangku dan akhirnya aku memuntahkan spermaku di mulutnya dan kemudian diminum semua oleh Sonia “Obat awet muda katanya” Dan aku sich tersenyum saja mendengarnya. Nggak lama kemudian aku tidur bersama mereka berempat dalam keadaan bugil. Sekitar Jam 7 pagi aku bangun dan menuju kamar mandi untuk mandi karena terus terang badanku lengket semua keringatan. Lalu aku mulai mandi dan menyabuni penisku, mungkin karena terkena tanganku eh adikku malah bangun lagi, dan ketika itu pintu kamar mandi terbuka, lalu aku lihat Tina masuk ke dalam, dan kaget “Gila lu Tom, mau onani yach, ngapain Tom, sayangkan lu buang gitu saja, mending buat aku, lalu setelah itu Tina nyamperin aku dan mulai memain-mainkan barangku sebentar lalu dia mulai mengulum penisku, sekitar 15 menit dia mengulum penisku, sampai akhirnya aku mengeluarkan spermaku di dalam, dan kemudian diminum seluruhnya oleh Tina, nggak beberapa lama kemudian dia malah nungging dan minta di fuck dengan posisi doggy style, tadinya aku sudah mau nolak dan jelasin bahwa sebenarnya aku lagi bersihin barangku bukan onani, tapi karena nafsu lihat pantat mulus akhirnya aku masukin juga barangku ke liang kewanitaannya, dan kali ini aku nggak sesulit sewaktu memasukkan barangku tadi malam, dan setelah puas dengan doggy style dia malah minta fuck dengan gaya monyet, dimana aku ngefuck sambil ngegendong dia, yach sudah dech akhirnya aku lakukan juga permintaan dia, 5 menit kemudian aku merasa bahwa aku mau orgasme, dan dia bilang “Yach sudah Tom keluarin di dalam saja, aku pengen ngerasain sperma kamu kok” Akhirnya aku keluarin juga dech spermaku di dalam liang kewanitaannya, lalu setelah itu kita malah mandi bersama dan sekitar pukul 9 pagi aku balik ke rumah dan tidur sampai malam. TAMAT
Photobucket
Read More

Persembahan Spesial

Pembaca dan penikmat ceritabebas.com yang budiman perkenankan saya untuk berbagi ceritera kepada sesama penggemar ceritabebas.com Adapun kisah yang saya ceriterakan tersebut di bawah ini mungkin sudah usang, karena kisah in saya alami pada tahun 1991 yang lalu di daerah Lombok Timur. Tanpa bermaksud untuk mengurangi isi ceritera nama yang saya gunakan dalam ceritera ini sengaja saya samarkan. Juni 1991 saya pergi ke Lombok Timur untuk suatu tugas dari bos tempat saya bekerja untuk menagih hutang bisnis, pada salah satu kolega bisnisnya. Dari kota Malang yang ada di Jawa aku menggunakan perjalanan darat sampai ke Banyuwangi lalu menyeberang ke Bali dan dilanjutkan perjalanan darat lagi hingga ke Padang Bai yang ada di pantai timur bali, kemudian menyeberang lagi hingga ke Lembar di pulau Lombok, setelah itu aku masih harus menggunakan jalan darat lagi hingga ke Desa Mamben Kecamatan Aikmel di ujung Timur pulau Lombok. Setelah kurang lebih 40 jam dalam perjalanan aku tiba di rumah Haji Mochtar, kolega bosku yang berhutang tersebut. Setelah berbasa-basi sejenak dengan Haji Mochtar, beliau mempersilahkan aku untuk beristirahat terlebih dahulu. Karena memang capek akupun berterima kasih sekali. Untukku disediakan kamar yang cukup besar bersebelahan dengan kamar tidur utama tempat tidur Haji Mochtar. Cukup mewah untuk ukuran rumah desa, selain cukup luas bersih dan nyaman. Siang itu aku tidur cukup nyenyak setelah dua hari diguncang kendaraan dalam perjalanan dari Jawa hingga ke Lombok. Sore harinya aku bangun dalam keadaan segar, keluar dari kamar kulihat duduk di beranda sambil menghisap rokok. Melihat aku keluar dari kamar, Haji Mochtar menyambutku lalu memperkenalkan aku dengan anggota keluarganya ; Masmah istrinya, Yati janda almarhum kakak Haji Mochtar yang juga kolegaku di Malang serta lima anak Haji Mochtar dan empat anak Yati. Setelah berbasa-basi sejenak Haji Mochtar menawarkan aku untuk mandi di sungai. Walaupun di rumah Haji Mochtar ada kamar mandi, namun keluarga itu masih senang mandi di sungai, lebih segar katanya. Karena belum pernah mandi di sungai, aku jadi tertarik juga. Ternyata sungai tempat mandi yang tidak begitu jauh dari rumah Haji Mochtar itu tidak seperti sungai yang aku bayangkan, lebih tepatnya telaga menurutku bukan sungai. Air telaga itu jernih sekali hingga batu dan ikan yang ada di dasarpun tampak. Karena hari belum terlalu sore, belum tampak orang mandi di sana. Telaga itu di sekat menjadi tiga bagian dengan mempergunakan anyaman daun kelapa diatas air dan tumpukan batu dari pemukaan air hingga dasar sungai. Di sebelah paling hulu tempat mandi dewasa, demikian juga yang di tengah sedangkan di hilir yang airnya lebih dangkal untuk mandi anak-anak. Melihat air telaga yang jernih aku jadi ingin segera mandi, karena masih sepi tanpa canggung aku melepas seluruh pakaianku dan segera masuk ke air. Segar juga rasanya mandi di sungai, ingin rasanya aku berlama-lama berendam. Haji Mochtarpun tampaknya juga mempunyai perasaan sepertiku. Kurang lebih seperempat jam kami berendam aku mendengar ada suara beberapa perempuan datang ke tempat mandi kami, aku pikir tentunya bilik yang di tengah adalah untuk bilik pempuan karena tampak lebih rapat dan aku juga tidak tahu jalan masuknya. Aku tidak ambil pusing dengan suara perempuan yang datang, sambil berenang agak ke tengah aku memeriksa batu pembatas bilik, sebab aku penasaran kenapa batu yang di tengah nampak terputus kurang lebih satu meter panjangnya. Sesekali aku menyelam agar tahu apakah batas tersebut memang tidak sampai ke dasar, setelah tahu batas tersebut memang terputus sampai ke dasar, aku segera kembali ke tepi karena ingin bertanya pada Haji Mochtar kenapa batas itu terputus. Sewaktu aku menyembul ke permukaan untuk mengambil nafas, aku mendapati pemandangan yang sangat mengejutkan ; ternyata di tepian di dekat aku meletakan bajuku, aku melihat beberapa perempuan sedang melepas baju, hendak mandi. Lebih terkejut lagi mereka nampak tidak terkejut sama sekali dan nampak biasa-biasa saja. Diantara perempuan-perempuan itu aku melihat Yati dan Masmah istri Haji Mochtar, sambil melepas celana dalam Masmah menyapaku yang masih di dalam air, “Segarkan pak, mandi di sungai?” “I i i ya bu,” jawabku tergagap, sambil mataku tidak lepas dari bukit kecil di belahan pahanya yang ditumbuhi bulu yang lumayan lebat dan kasar. Melihat pemandangan seperti itu aku jadi belingsatan sendiri, penisku mulai mengembang karena pemandangan tersebut. Bagaimana tidak jika dalam jarak kurang dari 4 meter di depanku ada enam orang perempuan yang semuanya telanjang bulat. Aku jadi berpikir apakah aku tadi terbawa arus waktu di bawah air hingga aku terseret ke bilik tengah ? namun anehnya kenapa para perempuan itu tidak terkejut? Dalam kegalauan seperti itu aku melihat Yati yang juga telah telanjang bulat segera menceburkan diri ke air dan berenang mendekatiku. Nampaknya dia tahu apa yang tengah aku pikirkan. Setelah mencapai jarak kurang dari 1 meter dariku Yati berbicara pelan padaku, “Ndak usah bingung pak, disini kami mandi barengan, campur laki-laki dan perempuan. Kalau bapak mau lihat, lihat aja mereka juga ndak marah kok kalau diperhatikan.” “Kalau suami mereka tahu bagaimana ?” tanyaku. “Santai saja, sebab di sini wanita adalah konsumsi. Mereka tidak berhak marah. Itu yang disebelah kiri itu kan suaminya yang itu,” kata Yati sambil menunjuk seorang wanita yang tengah menggosok betisnya dengan batu. Di tepian aku memperhatikan Masmah masih belum menceburkan diri ke air, dia asyik berbincang dengan seorang wanita. Nampaknya mereka berdua merasa kalau sedang aku perhatikan. Merasa diperhatikan seperti itu mereka sama sekali tidak merasa risih, bahkan mereka duduk pada sebuah batu yang letaknya lebih dekat denganku. “Tidak usah ditutupi pak, kita semua di sini telanjang kok jadi ndak usah malu,” kata Yati sambil tangannya berusaha untuk menyingkirkan tanganku yang menutupi penisku. “Kalau baru pertama mandi di sini pasti ngaceng,” kata Yati yang entah sengaja atau tidak menyentuh penisku. “Pak Haji mana tanyaku ?” sambil berbisik. “Mungkin di sebelah,” jawab Yati. “Kalau begitu aku menyusul ke sebelah saja,” jawabku sambil berbalik. “Jangan pak, nanti bisa dapat masalah, kalau masuk ke sana harus berpasangan,” jawab Yati pelan. “Memang kenapa ?” tanyaku. “Nanti aja ceriteranya di rumah, sekarang kita ke tepi saja, kalau masih malu keluar dari air duduk saja di batu itu,” jawab Yati, sambil menunjuk sebuah batu yang letaknya di dalam air kurang lebih satu meter dari tempat Masmah duduk. Aku masih bengong dan belum ada respon. Tiba-tiba Yati melakukan gerakan yang cukup mengejutkan aku, digenggamnya penisku lalu ditarik sambil berkata, “Ayo duduk di situ, capek nih berdiri terus.” “I i iya,” jawabku tergagap karena masih asyik memperhatikan Masmah dan kawannya. “Duduk situ saja pak, kalau malu keluar dari air,” kata Masmah sambil membetulkan duduknya lebih masuk ke air hingga pantatnya masuk ke air. “Sudah duduk sini dulu saya mandi dulu,” kata Yati setelah sampai di batu yang dimaksud. “Pak Theo kalau mau lihat jangan sungkan sebab disini bebas untuk melihat tapi haram untuk memegang,” kata Masmah sambil membenahi duduknya lebih mengangkang karena akan membersihkan selangkangannya, dalam posisi duduk seperti itu begitu nampak jelas belahan vagina Masmah yang berada kurang lebih satu meter di hadapanku. Melihat pemandangan seperti itu makin bertambah tegang saja penisku. Tanpa kusadari ketiga wanita di depanku juga tengah asyik memperhatikan batang penisku yang makin mengembang, dan nampak mata mereka begitu horny memandang batang penisku di air yang jernih itu. Karena merasa tidak tahan lagi kulihat ketiga wanita dihadapanku itu mulai menggosok-gosok bibir vagina mereka dengan tangan, aku segera keluar dari air dan langsung meraih handukku yang tadi kuletakan diatas batu, lalu dengan cepat aku memakai celana dalam dan celana pendekku dengan tergesa-gesa. “Saya duluan bu Yati, tolong pamitkan pak Haji. Mari bu Masmah saya udah kedinginan nih,” kata ku berbohong. sebenarnya aku ingin segera pulang untuk onani karena aku ingin segera menyalurkan hasratku dan tidak ada lawan untuk menyalurkan hasrat tersebut. Lagian aku belum terbiasa dengan pemandangan seperti tadi. “Ya pak, segera kami menyusul”, jawab Masmah dan Yati hampir bersamaan. Setibanya di rumah aku lansung masuk kamar dan melepaskan celana pendekku untuk segera melakukan onani, namun baru aku mengelus batang penisku sendiri, aku mendengar suara dari kamar Haji Mochtar, aku tak ambil pusing. baru aku mau melanjutkan aksiku, aku mendengar pintu tembusan yang menghubungkan kamarku dan kamar Haji Mochtar terbuka, tentu saja aku terkejut dan berusaha menutupi bagian bawah tubuhku yang tidak bercelana. Namun sekali lagi aku dibuat terkejut, dari arah pintu itu aku melihat Haji Mochtar bersama Masmah istrinya dan dua perempuan yang salah satunya tadi bertemu aku di sungai memasuki kamarku, lebih mengejutkan lagi mereka berlima dalam keadaan telanjang bulat. Sambil tersenyum Haji Mochtar berkata, “Maaf lho pak tadi di sungai saya tinggal sebab saya bertemu dia.” sambil menunjuk wanita di sebelahnya yang belum aku kenal sama sekali. “Oh ndak apa-apa pak, toh saya bisa pulang sendiri,” jawabku. Lalu Haji Mochtar berkata lagi, “Begini pak, bapak kan tamu saya.Disini ada adat tidak tertulis yang mewajibkan kami untuk menjamu bapak sepenuhnya termasuk meminjamkan istri kami sebagai teman tidur jika bapak menghendaki, seperti bapak menjamu kami kalau kami ke Jawa. Bedanya kalau di Jawa bapak tidak meminjamkan istri tapi bisa membelikan perempuan untuk kami, yang seperti itu disini tidak boleh karena itu zinah.” “Jadi saya boleh nih pinjam bu Masmah untuk teman tidur saya malam ini,” tanyaku sembrono. “O boleh pak, bukan hanya Masmah tapi juga kedelapan istri saya yang lain. Nanti mereka akan saya panggil ke sini semua dengan suami-suami mereka jika mau. O ya hampir lupa, kenalkan ini Hindun istri saya yang ke tiga,” kata Haji Mochtar sambil menunjuk wanita yang tadi bertemu aku di sungai. Perempuan itu lalu mendekatiku dan menjabat tanganku sambil berkata ; “Hindun, tadi kita sudah bertemu di sungai kan.” “Theo, ya tadi kita sudah ketemu,” jawabku. “Dan ini Mukti, istri saya yang ke sembilan. Sementara ini istri termuda saya,” kata Haji Mochtar. “Mukti,” Kata perempuan yang berusia kurang lebih 20 tahun itu menjabat tanganku sambil tersenyum. “Theo,” sambil menyambut uluran tangannya. “Nah sekarang pak Theo mau pilih siapa untuk menyalurkan hasrat pak Theo. Silahkan pilih, atau mau pakai ketiganya juga boleh. Tapi kalau bapak mau pakai kak Yati silahkan nego sendiri karena dia-kan bukan istri saya jadi saya tidak berhak untuk menawarkan, tapi karena kak Yati juga merupakan tuan rumah di rumah ini, kak yati juga wajib untuk menjamu pak Theo,” terang Haji Mochtar lagi. “Sudah karena aku juga wajib untuk menjamu, maka sekarang aku putuskan aku yang akan menemani pak Theo tidur, lagian selama dua tahun aku ditinggal suamiku baru kali ini aku merasa terangsang melihat laki-laki telanjang. Masmah dan Hindun sekarang juga harus melayani pak Theo, karena tadi di sungai sudah bikin pak Theo ngaceng, jadi kalian berdua harus tanggung jawab. Haji Mochtar sekarang harus menunggui kami bermain supaya bisa belajar bagaimana seharusnya orang bersetubuh, jangan seperti laki-laki disini yang bisanya hanya bisa main diatas dan perempuan dibawah terlentang tanpa perlawanan. Mari kita mulai,” potong yati sambil langsung mendekatiku, seraya melepaskan selimut yang kubelitkan di pinggang karena aku tidak bercelana. Setelah berhasil melepaskan selimut itu Yati memagut bibirku sambil berusaha melepaskan kaosku, setelah kaosku juga terlepas, Yati menoleh sambil berkata ; “Kalian berempat perhatikan kami, biar bisa main lebih bagus.” Setelah itu Yati lansung berjongkok dan memasukan penisku ke mulutnya, kulihat keempat orang di depanku terbeliak karena baru kali itu mereka melihat orang melakukan oral sex. Pada saat Yati melakukan oral sex padaku, kulambaikan tanganku memberi tanda agar Masmah mendekat. Setelah dekat denganku, lansung kutarik tangan Masmah agar lebih dekat denganku. Setelah itu kupeluk Masmah dan kupagut bibirnya, nampaknya Masmah belum pernah ciuman dengan cara seperti itu. Terpaksa aku ajarkan dia bagaimana harus memberikan perlawanan. Tak lama kemudian Masmah mulai bisa mengimbangi permainan mulutku di mulutnya. Pada saat Masmah mulai lancar memagut bibir, kulambai Hindun untuk mendekat, lalu aku berkata pada Masmah, “Sekarang ibu coba berciuman dengan bu Hindun.” Nampak canggung sekali Masmah dan Hindun melakukan perintahku, karena mereka belum pernah berciuman sesama wanita. Melihat hal itu, lalu kudorong tubuh masmah agar tidur terlentang di tepi Kasur dengan kaki menjuntai ke lantai. Kemudian akusuruh Hindun untuk tengkurap diatasnya untuk kembali mencumbui Masmah. Dalam posisi seperti itu, kurentangkan kaki Masmah agar selangkanganya membuka, lalu kujambak rambut Yati untuk melepaskan mulutnya dari penisku. Kemudian aku mmerangkak di lantai seraya mendekati selangkangan Masmah dan Hindun yang terbuka lebar. Dengan rakus lalu kubuka belahan vagina Masmah seraya memasukan ujung lidahku kedalam liang vaginanya. “Ouuuugh, teeeerrrrrrrus phak Theoh,” Masmah menlenguh panjang sambil tangannya berusaha untuk meraih belakang kepalaku. Sementara itu dari bawahku Yati telentang dan masih berusaha untuk mengoral penisku kembali. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, aku merasa kedua perempuan di depanku mengenjang dan nampak cairan bening meleleh dari liang vagina mereka berdua, sambil mulut mereka menceracau ; “Aaaaaduh kak, aku keluuuuuuuuuuuaaaaaaar,” racau Hindun. “Aaaaaaaaaaku juuuuuughaaaaa,” timpal Masmah. Aku menjilati seluruh cairan yang keluar dari kedua vagina itu hingga bersih, lalu berdiri dan kujambak rambut Yati untuk berdiri juga. Aku menoleh untuk melihat reaksi Haji Mochtar melihat itu. “Lho kok berdiri terus, duduk situ kan nyaman pak,” kataku sambil menunjuk sofa yang terletak di seberang tempat tidur. Setelah Haji Mochtar dan Mukti duduk berdampingan di sofa itu, kusuruh Yati untuk meng-oral Haji Mochtar. Yati lalu membungkukkan badannya ke depan, sementara dari arah belakang aku berusaha untuk memasukan penisku kedalam vaginanya. Walaupun Yati seorang janda dengan empat anak, namun vaginanya masih terasa sangat sempit, apalagi dalam dua tahun menjanda tidak ada satu bendapun yang menerobosnya, agak sulit juga aku berusaha memasukkan penisku pada vagina yati yang sudah lumayan basah itu. Setelah menempel pada bibir vagina Yati yang kubuka dengan dua jariku, kutekan kuat-kuat pinggulku ke depan. “Ouuuuuuuugh, ssssssssshh, aaaaaaaaah,” mulut Yati melenguh dan mendesis seperti orang kepedasan. “Hhhhhhhh, hhhhhhhh, yeesssss,” timpalku saat batang penisku berhasil menerobos liang vagina Yati. “Ouuuuuuugh aaaaaaah, eeeeeenaaaaak kaaak,” sambung Haji Mochtar, yang baru pertamakali itu merasakan oral sex. Setelah kutahan beberapa saat, kutarik pinggulku ke belakang hingga penisku terlepas dari vagina Yati. Setelah penisku terlepas lalu kumasukkan lagi pada liang vagina Yati, demikian kuulangi hingga tiga kali. “Ouuuuuuuugh, Ouuuuuuuugh,” desah Yati setiap kali penisku menembus bibir vaginanya. Setelah aku merasa mantap posisiku, kupegang pinggul Yati yang cukup besar itu dengan kedua tanganku lalu kuayun maju mundur. “Ouuuuuuuuuuughhhhh aaaaaaaah,” desah Yati dengan mulut penuh karena sedang mengulum penis Haji Mochtar. “Aaaaaaaaah teeeeeeerus phak Theeo, eeeeeeenaaaaaakk,” lenguh Yati lagi. “Auuuuuuuuuh aaawaass kaaak, aku hampir keluar !!!!!!!” pekik Haji Mochtar tertahan. Mendengar itu Yati bukannya melepas penis Haji Mochtar, tapi malah mempergencar serangannya pada penis Haji Mochtar. Dikulumnya seluruh batang penis Haji Mochtar yang tidak begitu besar itu hingga sampai kepangkalnya, lalu Yati menggeleng kekiri dan kekanan dengan cepat sambil menghisap batang penis itu. Diperlakukan seperti itu Haji Mochtar semakin tak tahan, tubuhnya mulai mengejang dan mulutnya melenguh ; “Aaaaaaawaaaaas kaaaaaaaak, aku keluarhhhhh !!!!” “Sseerrrrrrrrrt, ssssssseeeeert,” penis Haji Mochtar memuntahkan lahar panasnya. “Gllk, glek, aaaaaaah,” Yati menelan seluruh sperma Haji Mochtar yang tertumpah di mulutnya. Tigapuluh detik kemudian kulihat Haji Mochtar lunglai tak berdaya, sementara Yati masih sibuk menjilati ujung penis Haji Mochtar. “Ouuuuuugh sudah kak aku sudah tak tahan lagi, aakku suudaah taaak kuuuat,” erang Haji Mochtar, sambil menjambak rambut Yati, dan berusaha menjauhkan mulut Yati dari penisnya. Melihat itu aku jadi kasihan juga dengan Haji Mochtar, lalu kutarik pinggul Yati yang dari tadi kupegang sambil berkata, “Ganti posisi hhhhhh!” Tanpa melepas penisku dari vagina Yati kutarik dia kebelakang lalu aku berjalan mundur berputar hingga kearah sofa, lalu aku duduk di sofa di sebelah mukti yang sedari tadi kulihat sibuk menggosok-gosok vaginanya dengan telapak tangannya sambil memperhatikan kami bertiga. Dengan posisi aku terduduk di sofa dan Yati berada diatasku dalam posisi membelakangiku, yati mulai beraksi dengan cara bergerak naik turun diatasku hingga penisku bergerak keluar-masuk dalam vaginanya. Tanganku tidak lagi memegangi pinggulnya tetapi kumainkan clitoris Yati dengan kedua tanganku. Kuperlakukan seperti itu Yati semakin tak tahan. Gerakannya makin cepat dan mulutnya menceracau dengan suara aneh yang cukup keras. Hingga dalam kamar terdengar gaduh oleh ceracau Yati, mungkin dari luar kamarpun terdengar cukup kuat. “Ouuuuuugh, aaahh, sssssssh, aaaaku maaauu kheeluaaarh phaak Theooooooo !!!! pekik Yati sambil mempercepat gerakannya. Tiba-tiba kurasakan tubuh Yati mengejang lalu menekan kuat-kuat pinggulnya ke bawah hingga seluruh batang penisku tertancap seluruhnya kedalam liang vagina Yati hingga terasa kepala penisku meenyentuh dinding rahim Yati. “Oooooouuuuuuh aaaaaaah aaaaaahhhh,” pekik Yati. “Ssreeeeeet, ssssseeeeeeeeerrrrrr, ssesseerrrrr,”aku merasa ada cairan kental hangat dari dalam vagina Yati mengguyur batang penisku. Cukup banyak juga cairan yang keluar dari dalam vagina Yati hingga berleleran membasahi pangkal pahaku. “Hhhhhhhhh belum apa-apa sudah mbonjrot, nggak tanggung jawab kataku,” sambil berusaha mengintip Masmah dari bawah ketiak Yati. Masmah dan Hindun yang berada di tempat tidur dihadapan Yati nampak terbeliak melihat itu. “ayo tanggung jawab!” kataku sambil mendorong tubuh Yati kesamping. Kemudian aku berdiri dan menyodorkan batang penisku kemulut Yati untuk dibersihkan. Dengan tubuh lunglai, Yati menerima sodoran penisku lalu dengan sisa tenaganya mulai menjilati batang penisku hingga bersih. Setelah bersih, aku lalu berjalan menuju tempat tidur untuk menuntaskan haratku dengan Masmah. Melihat itu Hindun lalu bangun dan hendak turun dari tempat tidur, tapi aku mencegahnya. “Eit mau kemana ? kamu juga kan sudah dipinjamkan padaku oleh suamimu ?” tanyaku pada Hindun. “Bukannya pak Theo mau main dengan kak Masmah ?” tanya Hindun bingung. “Denganmu juga mari kita bermain bertiga,” jawabku. “Iya pak saya juga pingin merasakan seperti Kak Yati tadi, memangnya bapak masih mampu ? lagipula giliran saya kan setelah Kak Masmah,” tanya Hindun bingung. “Ngapain pakai ngantri kayak mau beli karcis bioskop saja, mari sini kuajari kalian main bertiga,” jawabku sambil memeluk belakang kepala Hindun agar tak lari dia. Kuberi Hindun ciuman di bibir, nampaknya Hindun sudah mulai tanggap dan memagut bibirku. “Hebat baru belajar langsung bisa,” kataku memuji Hindun sambil melepaskan pagutan Hindun di bibirku. Masmah masih terlentang di kasur, aku lalu tengkurap diatasnya lalu aku memagut bibirnya. Seperti Hindun, Masmah juga sudah cukup tanggap. Tiba-tiba aku merasakan tangan Masmah memegang batang penisku dan berusaha untuk membimbing penisku kearah selangkangannya. “Eeeit, belum waktunya,” kataku sambil melepaskan pagutanku pada bibirnya. “Kalian berdua duduk berdampingan di sini” kataku sambil berdiri ditengah-tengah tempat tidur. Setelah mereka berdua menuruti perintahku, kusodorkan penisku kearah mulut Masmah. Karena tadi Masmah sudah melihat apa yang telah dilakukan Yati, diapun mengerti yang kumau. Segera Masmah memegang batang penisku lalu mulai menjilatinya. Kujambak rambut ubun-ubun Masmah agar mulutnya terbuka, setelah Masmah membuka mulutnya, kumasukkan batang penisku kedalam mulutnya. Karena mulut Masmah agak, kecil terasa sesak penisku dalam mulutnya. Masmah hanya bisa mengakses penisku hingga sebatas helmnya saja. Kutarik batang penisku dari mulut Masmah, lalu kusodorkan ke mulut Hindun yang nampak sudah tak sabar untuk menikmati batang penisku juga. Karena mulut Hindun lebih besar, terasa lebih longgar dan lebih panjang batang penisku yang bisa diaksesnya, meskipun tidak sampai setengah dari batang penisku yang bisa diaksesnya. Setelah merasa cukup menikmati mulut mereka berdua yang bergantian mengulum penisku, kudorong kepala Hindun kebelakang agar melepaskan batang penisku. Setelah itu kusuruh Hindun untuk terlentang dan Masmah menungging diatasnya dalam posisi 69. Mereka berdua nampak belum paham dengan perintahku. Setelah kuajari Masmah dan Hindun untuk saling menjilati clitoris lawan mainnya, aku segara turun dari tempat tidur dan mendekati Mukti yang sudah belingsatan dari tadi. “Ayo kamu juga harus belajar jadi penyiar !” kataku sambi berdiri diatas sofa, agar posisi penisku tepat didepan mulut Mukti. “Mari pak, saya juga pingin merasakan jadi penyiar seperti kak Masmah dan kak Hindun,” kata Mukti. Mukti lalu memegang batang penisku dan mulai memainkan dengan ujung lidahnya, tiba tiba kudengar Yati berkata pada Haji Mochtar, katanya : “Heh kamu tadi baru main dengan Mukti kan ?” “Iya kak, memangnya kenapa ?” jawab Haji Mochtar. “Sudah kamu bersihin belum ?” tanya Yati lagi. “Belum kak, biasanya kan dia bersihin sendiri,” jawab Haji Mochtar lagi. “Nggak tanggung jawab, maunya makai aja ndak mau membersihin. Ayo bersihin, nanti biar kalau dipakai pak Theo sudah bersih”, perintah Yati. “Baik kak,” kat Haji Mochtar sambil bangkit berdiri lalu hendak melangkah pergi. “Eeeee mau kemana kamu ?” Yati bertanya pada Haji Mochtar. “Gimana sih, katanya suruh bersihin. ya mau ambil lap sama air,” jawab Haji Mochtar jengkel. “Bodoh, tadi kan sudah diberi contoh sama pak theo, juga sama aku kan sudah kuberi contoh masak masih mau ambil lap ?” kata Yati. “Sini lihat cara bersihinnya!” kata Yati sambil bangkit dari sofa lalu berlutut di lantai tepat dihadapan Mukti. Yati lalu membuka kedua kaki Mukti yang duduk dengan kaki rapat agar megangkang, setelah kedua kaki Mukti mengangkan lebar, Yati lalu menyerang pangkal paha Mukti dengan mempergunakan lidahnya. Diperlakukan seperti itu Mukti mulai mengerang, “Aaaaarrggh,” suara Mukti tertahankarena mulutnya penuh dengan batang penisku. Nampak Haji Mochtar mulai bangkit lagi gairahnya, batang penisnya nampak mulai bergerak untuk bangkit lagi. Dia lalu bergerak menuju belakang Yati untuk menirukan gerakan kakak iparnya itu pada vagina Yati. Dalam posisi setengah merangkak seperti itu tentulah pantat Yati yang cukup besar itu begitu mengundang nafsu untuk disetubuhi. Apalagi Haji Mochtar sudah memendam rasa untuk merasasakan vagina kakak iparnya itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Sejak almarhum kakaknya masih hidup, tapi sayang Haji Mochtar tidak pernah berani untuk mengatakan keinginannya itu pada almarhum kakaknya. Padahal apabila dia berani untuk mengatakan pada almarhum pasti dipinjamkannya. Perlahan Haji Mochtar bangkit dari sofa lalu merangkak ke belakang Yati. Setelah wajahnya tepat di belakang pantat Yati, Haji Mochtar mulai menirukan gerakan lidah Yati pada vagina kakak iparnya itu. Mendapat serangan secara tiba-tiba tentu Yati terkejut, dia mulai mengerang ; “Aaaaaaaah, baaaaaagusssssssss kamu beelajaar duuluu di puuunyakuuuuuuuuu.” “Sluuurp, ya kak, begini khann ? sluuuuuuuuuurp,” jawab Haji Mochtar. “Baaguuss, sesekarang kamu beersihiin punya Mukthii,” jawab Yati sambil menahan nikmat seraya berdiri. Yati lalu ikutan Mukti menjilati penisku. “Sssssudaaah, rudal ku mauu tak khandangin dhuluu aaaaaaaah,” kataku sambil melompat turun dari sofa menuju ke tempat tidur. “Kalian berdua selesaikan Haji Mochtar!!” perintahku pada Yati dan Mukti. Sesampainya diatas tempat tidur, aku lalu mendekati Masmah dari arah belakang. Kuraih rambut Masmah yang panjang sepantat itu lalu kugulung agar tidak menggangu serangan yang telah kurencanakan pada Masmah. Tahu aku dekati Masmah dan Hindun berhenti bermain. “Eee terus ndak boleh berhenti!” kataku pada mereka berdua. Aku lalu meraih pantat Masmah yang sedang nungging diatas Hindun, kuarahkan batang penisku pada vaginanya yang tampak sempit diantara dua pantatnya yang tidak begitu besar itu. “Bu Hindun ganti sasaran pada buah pelirku ya, sekalian tolong arahin rudal ini ke lubang bu Maasmah !” kataku memerintah Hindun sambil berdiri pada kedua lututku tepat dibelakang Masmah. “Baaaaaik phaak,” jawab Hindun sambil meraih batang penisku. “Auuuuuuuh, ssssssaakiit paaak,” erang Masmah karena baru sekali ini dia merasakan penis sebesar punyaku. “Aaaaaaaaah, buukaaaaiiin bbbibirnya deengan jajarii bbu nDun”, sahutku sambil menarik pinggang Masmah agar penisku dapat masuk lebih dalam pada vaginanya. “Auuuuuuuh, ssssssaakiit paaak susuudah paakk ndaaak kuuuat,” erang Masmah lebih lanjut. Mendengar itu aku jadi lebih bernafsu untuk menghajar Masmah lebih lanjut, kutekan penisku kuat-kuat agar bisa masuk seluruhnya dalam vagina Masmah, lalu aku berhenti untuk memberikan kesempatan pada Masmah agar bisa beradaptasi dengan penis besarku. Sementara itu aku menoleh untuk melihat reaksi Haji Mochtar melihat istrinya kesakitan. Aku tidak melihat reaksi Haji Mochtar, karena dia sudah berganti posisi terlentang di lantai dan dua perempuan diatasnya berjongkok sambil berhadapan, Yati pada bagian bawah dan Mukti berjongkok di wajah Haji Mochtar yang tampak asyik menikmati vagina Mukti dengan lidahnya. Kurang lebih satu menit kubiarkan batang penisku diam dalam vagina Masmah, sementara kantung pelirku sesekali dihisap oleh hindun, lalu aku bertanya, “Masih saakit bu Masmah ?” “Ssssedikiiiit tataappppi eeeeenaaak phak,” jawab Masmah. Mendapat jawaban seperti itu aku mulai menarik pantatku kebelakang perlahan lalu mendorongnya kedepan lagi. “Auuuh, aaaaaah, aaaaaaaaaaa, aaaaaah,” erang Masmah setiap kali aku menekan batang penisku karena menabrak dinding rahimnya. Semakin lama semakin licin lubang vagina Masmah semakin cepat pula gerakanku. Tak lama kemudian aku merasakan lobang vagina Masmah berdenyut, lalu kutekan penisku dalam-dalam pada vagina itu. “Mmmmmmhhhhhh,mmmmaaaaaahhhhhh”, tiba-tiba Masmah mengerang tertahan karena mulutnya tersumbat vagina Hindun. Bersamaan dengan itu aku merasa ada cairan hangat yang menyembur penisku dari dalam vagina Masmah. Bersamaan dengan itu Hindun mengejang sambil men jepit kepala Masmah dengan kedua pahanya. Mereka berdua orgasme hampir bersamaan. Setelah tubuh Masmah melemas, kucabut batang penisku, lalu kubalik posisi mereka berdua agar Hindun berada diatas Masmah. Sekarang Hindun dalam posisi nungging berada diatas Masmah. Aku lalu berpindah ke belakang Hindun dan mulai melakukan serangan yang sama seperti pada Masmah tadi. Vagina Hindun memang tidak sesempit Masmah jadi agak lebih mudah aku memasukan batang penisku pada vaginanya, apalagi ditunjang cairan yang begitu banyak dari dalam vagina memudahkan aku untuk menggoyang maju mundur. Namun demikian aku merasa vagina Hindun masih cukup sempit. “Aaaaaaaaaah,aaaaaaah,” erang Hindun setiap kali aku menggerakkan pantatku kedepan dan kebelakang. “Aaah hhhh uuuuuuuh aaaaaaaaaaaaah,” suara Yati yang sedang bermain di lantai dengan Haji Mochtar. “Aaaaaaadddduuhh ppaaaaaak aaku keelluar laghiiiiii,” rintih Hindun sambil bandannya mengejang. Tanpa memperdulikan rintihan Hindun kuayun pantatku lebih cepat, begitu nikmat rasanya vagina yang menyempit karena tubuh yang mengejang. Ditambah lagi dengan denyutan yang cukup kuat dalam lobang nikmat Hindun yang sedang orgasme. Kurang lebih satu menit kemudian tubuh Hindum melemas tak berdaya. Karena sudah tidak ada perlawanan dari kedua perempuan di bawahku, aku segera beranjak turun dari tempat tidur lalu menghampiri Mukti dari arah belakang. Setiba di belakang Mukti, lalu kuangkat pantat perempuan itu hingga mencapai posisi merangkak. Dalam posisi seperti itu segera kutusukan batang penisku kedalam liang senggama Mukti yang sudah basah tersebut. Walaupun liang senggama Mukti sudah sangat basah sekali karena cairan nikmatnya sendiri yang bercampur dengan ludah Haji Mochtar. Meskipun lubang vagina Mukti sudah sangat basah dan licin, namun masih begitu terasa menggigit, karena walaupun Mukti sudah 5 tahun menikah dengan 5 laki-laki, namun Mukti belum pernah hamil apalagi melahirkan. “Uuuuuugh, aaaahh, ssssss,” desah Mukti begitu merasakan batang penisku yang cukup besar menembus bibir vaginanya. “Aaaaah,aaaaah,aaaaaaaaaaaah,” desah Mukti setiap kali aku mengayunkan pantatku maju mundur. Kurang dari 5 menit kemudian aku merasakan tubuh Mukti mengejang dan mulutnya melenguh panjang, “Uuuuuuughh ahhh !!!!” Mukti melenguh dan kurasakan ada cairan hangat yang menyembur penisku di dalam vagina Mukti. Beberapa detik kemudian aku merasakan tubuh Mukti melemas bagaikan kain basah. Merasa tidak akan ada perlawanan lagi dari Mukti, segera kucabut batang penisku yang masih tegak berdiri. Setelah kusingkirkan tubuh Mukti yang lemas, aku memandang ke sekeliling mencari lawan yang masih mampu untuk melayaniku melepaskan dorongan dari dalam tubuhku yang serasa mau meledak. Dari empat perempuan yang ada, kulihat hanya Yati yang masih bertahan. Yati masih asyik naik turun diatas Haji Mochtar. Nampak gerakan Yati sudah sangat liar, menandakan dia sudah hampir orgasme untuk yang kesekian kalinya. Di bawah Yati kulihat Haji Mochtar dengan tubuh mengejang dan mulutnya mendengus seperti sapi yang sedang disembelih, nampaknya Haji Mochtar juga hampir ejakulasi. Segera kuhampiri Yati dari belakang, kutekan punggung Yati agar dia lebih mendekat ke tubuh Haji Mochtar. Yati yang sudah begitu berpengalaman melayani lebih dari satu laki-laki segera tanggap maksudku. Segera Yati menghentikan gerakannya dan memberikan kesempatan buatku untuk memasukkan batang penisku ke lubang anusnya. Tanpa membuang waktu segera kuarahkan batang penisku ke lubang anus Yati setelah kuludahi terlebih dahulu, lalu kutempelkan topi baja penisku pada bibir anus Yati. Dengan kedua tangan kubuka belahan pantat Yati agar lubang anusnya ikut terbuka. Perlahan tapi pasti aku mulai menekan batang penisku untuk menembus lubang anus Yati yang sudah tidak sempit lagi itu, namun karena sudah lebih dari dua tahun Yati tidak melakukan anal seks, lubang anusnya terasa sangat sempit sekali. “Aaaaaauuuuuuuuuuuuh ssssssssaaakit, pepepelan phaaak,” rintih Yati menahan sakit dan nikmat. Setelah berhasil masuk, kutahan sebentar batang penisku dalam lubang anus Yati, agar Yati dapat beradaptasi. Selang beberapa saat kemudian Yati mendesis seperti orang kepedasan, “sssssh,sssssssssh,sssssssssssssh,” begitulah tanda Yati jika siap untuk penetrasi setiap kali main dengan dua lawan atau lebih. Dulu waktu Yati masih tinggal di Malang dan suaminya masih hidup, kami sering sekali main bersama bertiga bersama dengan almarhum suaminya dan pak Hendra bos kami. Mendapat serangan ganda seperti itu tak lama kemudian Yati mulai liar gerakannya, Yati menghentak maju mundur tak beraturan pertanda sudah hampir orgasme. Kulihat haji Mochtar yang berada di bawah juga semakin liar pertanda sudah hampir klimax, sementara akupun sudah hampir meledak. Pada kondisi seperti itu segera aku ambil komando ; “Cabuuuuuuuuuut,” kataku sambil terengah. “Uuuuuaaaaaaaaaaaaaaah,” sahut Yati sambil merangkak maju hingga kedua batang penis yang menusuknya terlepas. segera setelah itu Yati bergeser dan merubah posisi duduk di sofa dengan kedua paha yang mengangkang, sehingga belahan vaginanya nampak merah merekah. Aku segera berdiri sambil mencekik batang penisku agar tidak memuntahkan spermaku yang serasa hampir meledak, kutengok Haji mochtar bingung dan batang penisnya nampak berkedut-kedut hendak menumpahkan sperma. Segera aku memberi komando ; “Tahan pak Haji, cekik, jangan sampai muntah dulu. Berdiri pak,” kataku pada Haji Mochtar. Meski bingung Haji Mochtar menurut saja pada perintahku, segera dia berdiri sambil mencekik batang penisnya sepertiku. Kutengok ketiga perempuan yang lain yang berada di kasur, apakah mereka masih menonton atau sudah terkapar. Ternyata ketiganya masih terkagum dengan permainan kami bertiga, melihat itu segera kulambaikan tanganku meminta mereka untuk mendekat, segera mereka bertiga beringsut dari tempat tidur lalu mendekati kami bertiga. Setelah dekat segera kucium Masmah di depan suaminya dan kubisikan di telinganya ; “Jilatin vagina Yati, biar dia orgasme lagi,” kataku di telinga Masmah. “Ya pak, beres”‘ jawab Masmah. Segera setelah itu aku melangkah maju dan menyodorkan batang penisku ke wajah Yati. Segera Yati menyambut batang penisku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya telah menggenggam penis Haji Mochtar, lalu dibimbingnya kedua batang penis yang digenggamnya itu mengarah ke mulutnya. Setelah dekat dijilatnya topi baja penisku dan penis Haji Mochtar bergantian sambil diurut lembut pada batangnya. Pada saat tangan Yati bergerak untuk memberikan kocokan yang kedua batang penis Haji Mochtar berdenyut kuat, segera Yati menarik batang penis tersebut untuk memasuki rongga mulutnya yang telah terbuka lebar. Segera setelah topi baja Haji Mochtar menyentuh bibir Yati, menyemburlah cairan kental dari batang penis itu. Nampaknya Yati tidak mau menyia-nyiakan cairan Haji Mochtar itu, segera dikulumnya batang penis Haji Mochtar lalu dihisapnya kuat-kuat hingga tidak setetespun sperma yang tertumpah, semua ditelan oleh Yati sebagai obat awet muda, sementara itu tangan kanan Yati masih terus aktif mengocok batang penisku. Tak lama kemudian aku mulai merasakan kedutan pada batang penisku ; “Uaaaaaaaah, aaku mau kkeluar nichhhhh,” racauku. “Aaaku jughaaaaaa,” sahut Yati sambil mendorong tubuh Haji Mochtar ke belakang, lalu ganti memasukan batang penisku dalam mulutnya lalu Yati mulai menghisap batang penisku kuat-kuat,sambil mengocok batang penisku dengan tangannya, tak lebih dari sepuluh kocokan kemudian, batang penisku mengejang serta menyemburkan lahar panas yang sejak tadi kutahan, “Uuuuaaaaaaaaaaahhhhh,hhhhhh,hhhhh,hhhhhh”,lenguhku saat lahar itu menyembur. Pada saat yang sama dengan tangkas Yati menghisap batang penisku dengan kuat, hingga terasa Yati hampir menelan batang penisku kedalam kerongkongannya. Nampaknya serangan yang dilakukan Masmah dari bawah telah pula berhasil membuat Yati orgasme untuk yang kesekian kalinya. Pada menit berikutnya kami berenam sudah terkapar kecapaian, Yati dan Masmah tidur memelukku dari kiri dan kananku, Sementara Mukti da Hindun memeluk Haji Mochtar. Kurang lebih dua jam kami tertidur kecapaian, hingga ada suara asing membangunkan kami sambil menggoyang-goyangkan tubuh kami. “Inaq, Bapak, uras sembayang subuh julu,” (Ibu, bapak, bangun Sembahyang Subuh dulu) suara Umi anak Sulung Yati membangunkan kami. Meski mata terasa berat dan aku juga tidak sembayang karena bukan muslim akupun terbangun oleh suara itu. Perlahan kubuka mataku, dan kulihat Umi yang baru kelas dua SMA itu mengguncang tubuh ibunya dalam keaadaan telanjang bulat juga. Belum habis keterkejutanku, aku berusaha membuka mata lebih lebar kulhat Rahma anak kedua Haji Mochtar yang baru kelas dua SMP dan bulu jembutnya baru mulai tumbuh itu juga telanjang bulat mengguncang tubuh Haji Mochtar membangunkan bapaknya. Sementara itu Husnul, anak Sulung Masmah tengah membangunkan Mukti, ibu tirinya, dengan cara menusukan jarinya pada vagina ibu tirinya itu. Belum habis keterkejutanku, terasa ada kain basah mengusap lembut pada batang penisku yang lemas dan mengecil karena hawa dingin. Kubuka mata lebih lebar, dan akupun terbeliak karena dihadapanku kulihat Umi tengah asik membersihkan batang penisku dengan kain basah. Aku bangun dan duduk sambil mengucek-ucek mataku berusaha memperhatikan sekelilingku lebih seksama. Kumelihat disana Husnul dan Fendi serta Zamrah (ketiganya anak Haji Mochtar dari Masmah) juga Umi dan Rahma (anak Yati) semuanya telanjang bulat sambil membawa ember dan handuk kecil hendak membersihkan kelamin kami yang baru saja kami pakai bersetubuh. Dengan bingung aku perhatikan Yati, Hindun dan Mukti beranjak bangun Lalu duduk mengangkang di sofa, sementaran Husnul berjongkok di depan Yati sambil mengusap vagina Yati yang masih berlepotan cairan itu dengan menggunakan handuk basah yang dipegangnya. Demikian juga dengan Fendi, dia tengah asik mengelap vagina Mukti, ibu tirinya. Mataku berputar mencari Masmah, dalam hati aku heran kenapa Masmah tidak ikut antrian untuk membersihkan vaginanya. Kumelihat Masmah tengah duduk mengangkang disudut tempat tidur besar itu sambil membersihkan vaginanya sendiri. Dalam hati aku heran kenapa Masmah justru membersihkan vaginanya sendiri tidak ikut antrian untuk dibersihkan oleh anaknya. Sementara itu dibarisan anak perempuan, setelah selesai membersihkan penisku Umi beranjak untuk membersihkan penis Haji Mochtar, sementara Zamrah dan Rahma masih asik mengelus penisku dengan lembut. Pada menit berikutnya kembali Umi mendekati penisku dengan mulut terbuka lalu mulai menjilati batang penisku. Lalu kemana Haji mochtar ? ternyata Haji Mochtar tengah asik membersihkan vagina Masmah. Setelah acara bersih-bersih selesai, mereka semua beriringan menuju ke kolam di samping rumah di kolam yang disebut telaga itu mereka semua mandi keramas bersama-sama. Usai mandi mereka semua lalu naik ke gazebo yang berada di dekat kolam itu lalu sembahyang bersama dipimpin Haji Mochtar. Setelah selesai sembahyang berjamaah, mereka lalu melepas seluruh pakainnya dan beriringan kembali ke dalam kamar dimana aku sedari tadi menunggu sambil memperhatikan mereka dari jendela kamar yang dibuka oleh Umi. Sesampainya dalam kamarku, Haji Mochtar bertanya padaku, “Bagaimana pak Theo, masih mampu melanjutkan permainan kita ?” “Boleh, tapi apa kalian semua tidak pergi kerja ?” jawabku sambil bertanya. “Baiklah kalau begitu kita lanjutkan permainan kita. Masalah kerjaan kan banyak pembantu yang mengerjakan. Tapi sebaiknya sebelum kita lanjutkan permainan kita ada baiknya kita ngopi dulu sambil sarapan,” kata Haji Mochtar. “Betul juga itu, sambil ada beberapa beberapa hal yang perlu saya tanyakan,” jawabku. “Kalau begitu mari kita ngopi dulu di ruang tengah atau di santrean (gazebo di halaman samping rumah) pak ?” jawab Haji Mochtar sambil beranjak berdiri. “Nampaknya di luar masih dingin, sebaiknya kita di ruang tengah saja,” jawabku. Lalu kami berenam berjalan beriringan menuju ke meja makan di ruang tengah rumah itu dalam keadaan telanjang bulat semua. Sesampainya di ruang makan, kami duduk mengelilingi meja makan. Yati dan Masmah duduk disampingku. Sementara Mukti dan hindun mengapit Haji Mochtar diseberang kami. Yati menyilangkan paha kirinya pada paha kananku, sementara Masmah menyilangkan paha kanannya pada kaki kiriku. Demikian pula diseberang meja kulihat Mukti dan hindun juga melakukan posisi yang sama pada Haji Mochtar. Pada menit berikutnya anak-anak Haji Mochtar juga anak-anak Yati beriringan keluar sambil membawa nampan berisi makanan dan kopi serata ada jamu tradisional. Sambil menikmati hidangan pagi itu kami bercakap -cakap. “Bagaimana pak Theo ? puas dengan penyambutan kami ?” tanya Haji Mochtar membuka percakapan. “Ya begitulah, sangat puas sekali,” jawabku. “Ya beginilah cara kami menyambut tamu pak, sebab kalau bapak ingin memilih dan membeli seperti di Jawa disini tidak ada pak. Sebab itu zina dilarang agama pak,” terang Haji Mochtar. “Tapi kalau saya menyetubuhi istri bapak dan bu Yat dan semua itu kan bukan istri saya. Apa itu bukan zina pak ?” tanyaku. “Oh itu bukan zina pak, lagian saya kan yang mempersilahkan bapak untuk menyetubuhi istri saya dan saya juga ada serta melihat, apalagi kalau ternyata istri saya bisa memuaskan bapak itu adalah suatu kehormatan bagi saya dan keluarga pak. Kecuali jika bapak bersetubuh dengan istri saya tanpa sepengetahuan saya, bapak dan istri saya bisa dihukum pak. Tapi ini hanya berlaku selama satu minggu. Selebihnya kalau lewat dari satu minggu maka bapak akan dihukum dan wajib untuk menikahi wanita yang sedang bapak setubuhi,” terang Haji Mochtar lagi. “Lalu hukumannya apa pak ?” tanyaku penasaran “Hukumannya bapak akan diarak ke halaman masjid yang ada di pusat desa bersama wanita yang bapak setubuhi bersama dengan suaminya dalam keadaan telanjang bulat, lalu bapak harus bersetubuh dengan disaksikan oleh orang sedesa ini. Jika ada dari penonton yang ingin bersetubuh dengan terhukum harus dilayani tanpa syarat. Hukuman ini baru berhenti jika kepala kampung atau tuan guru sudah menyatakan cukup,” Terang Haji Mochtar lagi. “Lalu waktu kita selesai main tadi kenapa anak-anak dibiarkan masuk ke kamar kita pak ? bukankah itu tidak baik bagi perkembangan jiwa mereka pak ?” tanyaku lagi. “Oh itu, jangan salah sangka dulu pak, bagi anak-anak yang telah cukup umur wajib untuk melihat orangtuanya bersetubuh, agar mereka nanti kalau menikah tidak canggung dan telah bisa untuk melakukan persetubuhan. Tetapi ada larangan bagi anak-anak untuk menyentuh kelamin orang tua kandungnya, namun wajib untuk menyentuh dan membersihkan kelamin orangtua tirinya. Bagi anak laki-laki wajib untuk melayani atau menikahi ibu tirinya jika si ibu menginginkannya. Demikian pula anak perempuan pada bapak tirinya atau tamu kehormatan yang berada di rumahnya. Jadi kalau bapak menginginkan anak gadis saya maka anak sayapun akan melayani bapak dibawah arahan ibunya agar bapak bisa terpuaskan,” kata Haji Mochtar lagi. Sementara itu para wanita disamping kami dengan aktif dan atraktif mengelus penis kami agar bangun lagi, nampak mata mereka sangatlah horny sekali. Tak lama berselang Umi, Rahma dan Zamrah masih dalam keadaan telanjang bulat mendekatiku seiring dengan lambaian tangan ibunya untuk mendekat. “Um, tolong kamu ambil mug besar yang ada di dekat tempat tidur ibu di kamar !” kata Yati menyuruh Umi anaknya. “Baik bu,” kata Umi sambil melangkah pergi. Tak lama berselang Umi datang sambil membawa mug besar berisi air teh yang sudah diendapkan selama semalam. “Ini bu,” kata Umi sambil menyodorkan mug tersebut pada Ibunya. “Sekarang kamu bantu ibu mencuci penis pak Theo dan punya paman Mochtar,” kata Yati. “Baik bu,” Kata Umi seraya merangkak ke bawah meja. Pada menit berikutnya aku merasakan ada tiga pasang tangan yang bergantian mengelus batang penisku dalam mug yang berisi teh itu, perlahan tapi pasti aku merasa mulai ereksi kembali. Aku tidak tahu apa campuran teh dalam mug itu, tapi yang jelas sejak dulu waktu masih di Malang Yati selalu mencuci batang penis kami dengan ramuan tersebut. Efek dari ramuan tersebut memang begitu nyata seperti yang kurasakan sekarang ini. “Diminum dulu jamunya pak Theo, Setelah itu kita main lagi yah,” kata Yati dengan manja dan mata yang sayu. “Memangnya bu Yati dan bu Nasmah tidak ke pasar ?” tanyaku sambil menerima gaelas berisis jamu yang disodorkan Yati. “Sejak kedatangan pak Theo kemarin pagi, di pasar saya sudah mengatakan pada para pembantu bahwa kami berdua tidak ke pasar selama tiga hari ini. Biar mereka yang menjaga toko,” kat Masmah menyahut pertanyaanku. “Lalu selama tiga hari ini bu Masmah mau kemana ?” tanyaku lagi. “Kami berdua mau menemani pak Theo, terus terang kemarin kak Yati menceritakan bahwa kontol pak Theo begitu istimewa dibanding dengan semua kontol yang pernah dirasakan oleh kak Yati. Ternyata memang benar, walaupun selama hidup saya baru merasakan kontol bapak dan kontol suami saya. Kalau pak Theo mau, saya ingin menjadi istri bapak, sehingga bapak bisa ngentot saya sampai kapanpun.” kata Masmah polos di hadapan suaminya. “Sebaiknya memang pak Theo mau menikahi istri saya pak, sebab bapak bebas menggauli istri saya hanya dalam satu minggu ini pak. Bila bapak tdak menikahi salah satu dari perempuan di sini, maka bila minggu depan bapak masih tinggal di sini saya tidak bisa memberikan selimut buat bapak lagi,” sambung Haji Mochtar mendukung keinginan istrinya. Bagai disambar petir rasanya, heran istri sendiri malah ditawarkan untuk dinikahi laki-laki lain. Pak haji ini sudah pening atau jangan-jangan istrinya mau dipakai bayar hutang ? “Tapi ini tidak ada hubungan dengan tugas saya untuk menagih hutang kan pak ?” tanyaku ragu. “O, tidak. Masalah itu jangan khawatir pak, sebenarnya uang untuk membayar hutang itu sudah ada sejak dulu. Cuma saya tidak tahu mengapa kak Yati melarang saya untuk membayarkan,” jawab Haji Mochtar. “Aku memang melarang Mochtar untuk mengirim uang itu, supaya ada alasan untuk mengundang pak Teo dan pak Hendra untuk datang kemari. Sebab semenjak aku pindah kemari hingga suamiku meninggal aku belum pernah terpuaskan dalam sex. Pak Theo kan tahu waktu di Jawa dulu kan setiap minggu tiga kali kita party, dan terus terang saya hanya terpuaskan oleh kontol pak Theo. Saya kangen ini pak !” kata Yati sambil mengelus penisku dengan lembut. “Lalu kapan uang itu mau dikirim ?” tanyaku. “Siang ini pun bisa, asal pak Theo mau menikahi saya dan Masmah. Kalau pak Theo tidak percaya silahkan pegang buku tabungan saya dan nanti kita pergi ke Masbagik, di BRI nanti kita kirim uang itu sekalian seluruh uang saya silahkan untuk pak Theo semuanya,” jawab Yati. “Kalau begitu permasalahannya kenapa kita musti menikah ? toh bu Yati tetap bisa merasakan kontol saya kapan pun bu Yati mau”,jawabku. “Tapi saya ingin kita menikah, sebab saya tidak ingin dihukum keliling desa dalam keadaan telanjang bulat. Saya juga tidak mau kita menikah secara negara, saya cuma ingin mas Theo menikahi saya dengan cara kami,” kata Yati lagi. “Bukan secara negara. Lalu secara kalian, gimana itu ?” tanyaku bingung. “Begini, dalam tatanan adat kelompok kami ada cara menikah tersendiri yang tidak perlu mengurus segala surat menyurat sebagaimana umumnya. Kita cukup melapor pada kepala adat atau disini kami menyebutnya tuan guru, lalu kita mengundang kerabat dan tetangga. Kemudian kita disumpah didepan orang banyak, resmilah status pernikahan kita. Tinggal mengadakan pestanya,” terang Yati. “Yah kalau begitu bolehlah, tapi kenapa musti pake pesta segala ?” jawabku. “Ini wajib. Dan dalam pesta nanti sebagai pengantin kita berhak untuk memilih pasangan dari para tamu untuk kita jadikan selingan selama dalam pesta,” terang Haji Mochtar. “Pesta sex maksudnya ? Lalu jika kita menginginkan untuk menyetubuhi istri salah satu tamu, apa suaminya tidak marah ?” tanyaku bingung. “Ya, pesta seperti itulah, dan kalau ada tamu yang istri atau suaminya diinginkan oleh pengantin mereka tidak boleh marah, malah suatu kehormatan bagi yang pasangannya dipilih oleh pengantin. Apalagi jika pengantin itu datang dari luar daerah seperti bapak,” terang haji Mochtar lagi. “Ya baiklah kalau begitu,” jawabku ringan. Setelah kami putuskan untuk mengirim uang siang nanti, kami melanjutkan pesta kami. Aku tak tahu ramuan apa yang telah aku minum namun jamu trdisional mereka itu sangatlah manjur sekali. Penisku terasa ngaceng lebih tegang dari biasanya walaupun barusan dipakai. Segera kupeluk Yati dan Masmah untuk kuajak bertempur lagi. Masmah yang tadinya nampak lemas, setelah meminum jamu nampak sangatlah bugar. Melihat aku telah siap untuk bertempur lagi, segera keempat perempuan itu bersiap untuk masuk kembali ke kamar. Sesampainya di kamar segera aku membagi tugas. “Bu Yat, tolong ajari Mukti dan Hindun tehnik yang lebih baik. Sementara bu Masmah main dengan saya giliran pertama,” kataku pada Yati. “Baik mas, tapi tolong jangan memanggil kami dengan sebutan ibu. Sebab sekarang ini kami adalah selimut mas Theo”, kata Yati. “Lalu aku harus panggil apa ?” tanyaku bingung. “Cukup panggil nama saja. Dan sebelum mulai babak ke dua, kami semua wajib melumasi kontol mas Theo”, jawab yati seraya mengelus lembut batang penisku. “Maaf pak Theo, kalau tidak keberatan untuk babak ke dua ini saya minta ijin untuk bergabung belakangan. Sebab saya ada urusan sebentar,” sela Haji Mochtar. “Mau kemana kamu Moch ? Ada tamu kok malah mau pergi!” timpal Yati. “Aku ingin memanggil semua istriku kak, aku ingin mereka semua belajar permainan seperti orang-orang kota pada kakak dan pak Theo supaya pinter,seperti kakak,” Jawab Haji Mochtar. “Kalau menurut aku jangan sekarang lebih baik besok saja toh besok masih banyak waktu dan sekarang mas Theo kan sudah capek,” larang Yati. “Ya kalau begitu terseah kakak saja”, Jawab Haji Mochtar. “Memang ada berapa istri pak Haji ? dan kemana mereka ?” tanyaku. “Istri saya ada delapan pak, mereka juga memiliki suami selain saya, jadi mereka ada di rumah suami-suami mereka yang lain,” jawab Haji Mochtar. “Sudah wawancaranya nanti saja, kita mulai saja babak kedua. Udah nggak tahan nich,” kata Yati. “Ya kalau begitu ayo pindah ke kamar,” ajakku sambil merangkul Yati dan Masmah. Kami pun melangkah kembali ke kamar. Sesampainya di kamar Yati memintaku untuk duduk di sofa, Yati dan Masmah lalu duduk di lantai sambil mengulum batang penisku bergantian. Sementara itu Mukti dan Hindun duduk disebelah kiri dan kananku sambil kuremas buah dada mereka masing-masing sebelah, sambil kupagut bibir mereka bergantian. Kira-kira tiga menit kemudian, kedua wanita yang mengerjaiku dari bawah, (Yati dan Masmah) menghentikan kegiatan mereka. Yati lalu berdiri mengangkangiku dengan posisi membelakangi aku, selanjutnya Yati mulai bergerak menurunkan pantatnya. Sementara Masmah duduk bersimpuh di lantai diantara kedua pahaku yang mengangkang. Tangan kanan Masmah menggegam penisku, sementara tangan kiri Masmah membimbing selangkangan Yati mengarah tepat ke penisku. Perlahan tapi pasti kurasakan topi bajaku mulai menyentuh gundukan daging yang empuk dan basah, beberapa detik kemudian kurasakan kepala penisku mulai membelah belahan vagina Yati yang basah, bllleeeessssssssssssss perlahan tapi pasti adik kecilku memasuki liang vagina Yati. “Aaaaah, mmmmfffhhhhhhhhhh,” lenguh Yati seiring dengan masuknya batang penisku pada Vaginanya. “Tahan kak!” Kata Masmah ketika seluruh batang penisku telah terbenam seutuhnya dalam vagina Yati Lalu sambil berlutut diantara kedua pahaku Masmah mulai membungkuk dan mulai menjilati buah zakarku lalu menjilati klitoris Yati.
Photobucket
Read More

Bercinta Dengan Wanita Hamil

Tiada lagi keistiwaan jika uang yang kumuliki ini tidak kugunakan untuk hal-hal yang berfungsi,tapi semua kan belum waktunya,mengingat istri aja belum punya.Ketir tapi,mendengar cerita teman-teman kadang bilang bahwa berkeluarga itu bnyak resiko,misalnya ekonomi,atau masalah hati yang terbagi dan masih banyak problem-problem rumah tangga yang marak terjadi di dunia ini.Ngiris juga bila itu menimpa ku kelak.Tapi tak apalah semua itukan sudah ada yang mengalami,lagi pula aku dah tau letak problem mereka jadi aku harus hati-hati dan jangan hal yang sama seperti itu menimpa pada diriku.”akupun beranjak dari kursi yang sejak tadi melamun tanpa henti bergulat pada mimpi-mimpi yang tak pasti lalu kuhidupkan mobil tancap aku menyusuri Jalan di kawasan perumahan elit yang mulai sepi karena kebetulan hujan gerimis. Ditengah perjalanan aku melihat perempuan setengah baya berdiri di bawah pohon di pinggir jalan. Aku merasa kasihan lalu aku menghentikan mobil dan menghampirinya. Aku bertanya, “Ibu sedang menunggu apa?” Dia memandangku agak curiga tapi kemudian tersenyum. Dalam hati aku memuji, Manis juga ibu ini walaupun umurnya kelihatannya di atasku sekitar 34 -36 tahun kalau digambarkan seperti artis Misye Arsita dan saat itu perutnya agak membuncit kecil kelihatan sedang hamil muda. “Kalau ke manukan naik angkot apa ya Dik?” “Wah jam segini sudah habis Bu angkotnya, Gimana kalo saya antar?” Dia kelihatan gembira. “Apa tidak merepotkan?” “Kebetulan rumah saya juga satu arah dari sini, mari naik!” Setelah dia ikut mobilku, Ibu itu bercerita bahwa dia berasal dari Jawa Tengah, dia sedang mencari suaminya yang kebetulan baru 2 minggu kerja sebagai sopir bis jurusan Semarang-Surabaya, keperluannya ke sini hendak mengabarkan kalau anaknya yang pertama yang berumur 15 tahun kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sehingga butuh uang untuk perawatan anaknya. Kebetulan alamat yang di tulis oleh suaminya tidak ada nomer teleponnya. Sesampainya di alamat yang dituju kami berhenti. Setelah di depan rumah ketika akan mengetuk pintu ternyata pintunya masih digembok, lalu kami bertanya pada tetangga sebelah yang kebetulan satu profesi. “Suami Ibu paling cepat 2 hari lagi pulangnya. Baru saja sore tadi bisnya berangkat ke Semarang. Kebetulan kami satu PO.” Kemudian kami permisi pergi. Kelihatan di dalam mobil dia sedih sekali. “Terus sekarang Ibu mau ke mana?” tanyaku. “Sebenarnya saya pengin pulang tapi.. pasti saya nanti di marahi mertua saya kalau pulang dengan tangan kosong, lagian uang saya juga sudah nggak cukup untuk pulang.” “Begini saja, Ibu kan rumahnya jauh, capek kan baru nyampek trus pulang lagi.. apalagi kelihatanya ibu sedang hamil, berapa bulan?” “Empat bulan ini Dik, trus saya harus gimana?” “Dalam dua hari ini Ibu tinggal saja di rumah saya, kan nggak jauh dari manukan nanti setelah dua hari ibu saya antar ke sini lagi, gimana?” “Yah terserah adik saja yang penting saya bisa istirahat malam ini.” “Oh ya, boleh kenalan.. nama Ibu siapa dan usianya sekarang berapa?” “Panggil saja aku Mbak Menik, dan sekarang aku 35 tahun.” Malam itu, dia kusuruh tidur di kamar samping yang biasanya dipakai untuk kamar tamu yang mau menginap. Rumahku terdiri dari 3 kamar, kamar depan kupakai sendiri dan isteriku, sedang yang belakang untuk anakku yang pertama. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, kebetulan malam sabtu dan di kantorku hanya berlaku 5 hari kerja jadi sabtu dan minggu aku libur. Sebenarnya aku ingin pergi ke Malang tapi karena ada tamu, kutangguhkan kepergianku minggu depan. Sekitar jam 8 pagi aku bangun, kulihat sudah ada kopi yang sudah agak dingin di meja makan serta beberapa kue di piring. Mungkinkah ibu itu yang menyajikan semua ini. Lalu setelah kuteguk kopi itu aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan kencing. Karena agak ngantuk aku kurang mengawasi apa yang terjadi, saat aku selesai kencing aku tidak sadar kalau di bathup Mbak Menik sedang telanjang dan berendam di dalamnya. Matanya melotot melihat kemaluanku yang menjulur bebas, ketika aku membalik ke samping aku kaget dan sempat tertegun melihat tubuh telanjang Mbak Menik, tubuh yang kuning langsat dan mulus itu terlihat mengkilat karena basah oleh air dan buah dadanya.. wow besar juga ternyata, 36B. Pasti empunya gila seks. Lalu mataku berpindah ke sekitar pusarnya, di atas liang senggamanya tumbuh bulu kemaluannya yang lebat. Tak sadar kemaluanku tegak berdiri dan aku lupa kalau belum mengancingkan celana, Dan Mbak Menik sempat tertegun melihat kejantananku yang lumayan besar, panjangnya 17 cm tapi kemudian.. “Aouuww, Dik itunyaa!” kata Mbak Menik sambil menutup buah dadanya dengan tangan serta mengapitkan kakinya. Aku baru sadar lalu buru-buru keluar. Di kamar aku masih membayangkan keindahan tubuh Mbak Menik. Andai saja aku bisa menikmati tubuh itu.. aku malah berpikiran ngeres karena memang sudah lama aku tidak mendapat jatah dari isteriku, ditambah lagi situasi di rumah itu hanya kami berdua. Lalu timbul niat isengku untuk mengintip lagi ke kamar mandi, ternyata dia sudah keluar lalu kucari ke kamarnya. Saat di depan pintu samar-samar aku mendengar ada suara rintihan dari dalam kamar samping, kebetulan nako jendela kamar itu terbuka lalu kusibakkan tirainya perlahan-lahan. Sungguh pemandangan yang amat syur. Kulihat Mbak Menik sedang masturbasi, kelihatan sambil berbaring di ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya bergantian. Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan memerah dengan mata terpejam. “Ouuhh.. Hhhmm.. Ssstt..” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar dia mendesis…desis…i.. Sss Ahh..” Ternyata dia sedang membayangkan sedang bersetubuh , dia sedang bermasturbasi. kelihatan sambil berbaring di ranjang dia masih telanjang bulat, kakinya dikangkangkan lebar, tangan kirinya meremas liang kewanitaannya sambil jarinya dimasukkan ke dalam lubang senggamanya, sedang tangan kanannya meremas buah dadanya bergantian. Sesekali pantatnya diangkat tinggi sambil mulutnya mendesis seperti orang kepedasan, wajahnya kelihatan memerah dengan mata terpejam. “Ouuuhh… Hhhmm… Ssstt…” Aku semakin penasaran ingin melihat dari dekat, lalu kubuka pintu kamarnya pelan- pelan tanpa suara aku berjingkat masuk. Aku semakin tertegun melihat pemandangan yang merangsang birahi itu. Samar-samar kudengar dia menyebut namaku, “Ouhhh Aldiii.. Sss Ahhh..” Ternyata dia sedang membayangkan bersetubuh denganku, kebetulan sekali rasanya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera menikmati tubuhnya yang mulus walau perutnya agak membuncit, justru menambah nafsuku. Lalu pelan-pelan kulepaskan pakaianku satu-persatu hingga aku telanjang bulat. Batang kemaluanku sudah sangat tegang, kemudian tanpa suara aku menghampiri Mbak Menik, kuikuti gerakan tangannya meremasi buah dadanya. Dia tersentak kaget lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. \ “Sedang apa Anda di sini!, tolong keluar!” katanya agak gugup. “Mbak nggak usah panik.. kita sama-sama butuh.. sama-sama kesepian, kenapa tidak kita salurkan bersama,” kataku merajuk sambil terus berusaha mendekatinya tapi dia terus menghindar. “Ingat Dik, saya sudah bersuami dan beranak tiga,” Dia terus menghiba. “Mbak, saya juga sudah beristri dan punya anak, tapi kalau sekarang terus terang saya sangat terpesona oleh Mbak.. Nggak ada orang lain di sini.. cuma kita berdua.. pasti nggak ada yang tahu.. Ayolah saya akan memuaskan Mbak, saya janji nggak akan menyakiti Mbak, kita lakukan atas dasar suka sama suka dan sama-sama butuh, mari Mbak!” “Tapi saya sekarang sedang hamil, Dik.. kumohon jangan,” pintanya terus. Aku hanya tersenyum, “Saya dengar tadi samar-samar Mbak menyebut namaku, berarti Mbak juga inginkan aku.. jujur saja.” Dan aku berhasil menyambar selimutnya, lalu dengan cepat kutarik dia dan kujatuhkan di atas ranjang dan secepat kilat kutubruk tubuhnya, dan wajahnya kuhujani ciuman tapi dia terus meronta sambil berusaha mengelak dari ciumanku. Segera tanganku beroperasi di dadanya. Buah dadanya yang lumayan besar itu jadi garapan tanganku yang mulai nakal. “Ouughh jangaan Diik.. Kumohon lepaskaan..” rintihnya. Tanganku yang lain menjalari daerah kewanitaannya, bulu-bulu lebatnya telah kulewati dan tanganku akhirnya sampai di liang senggamanya, terasa sudah basah. Lalu kugesek-gesek klirotisnya dan kurojok-rojok dinding kemaluannya, terasa hangat dan lembab penuh dengan cairan mani. “Uhhh… ssss..” Akhirnya dia mulai pasrah tanpa perlawanan. Nafasnya mulai tersengal-sengal. “Yaahhh… Ohhh… Jangaaann Diik, Jangan lepaskan, terusss…” Gerakan Mbak Menik semakin liar, dia mulai membalas ciumanku bibirku dan bibirnya saling berpagutan. Aku senang, kini dia mulai menikmati permainan ini. Tangannya meluncur ke bawah dan berusaha menggapai laras panjangku, kubiarkan tangannya menggenggamnya dan mengocoknya. Aku semakin beringas lalu kusedot puting susunya dan sesekali menjilati buah dadanya yang masih kencang walaupun sudah menyusui tiga anaknya. “Yahh… teruuuss, enaakkk…” katanya sambil menggelinjang. Kemudian aku bangun, kulebarkan kakinya dan kutekuk ke atas. Aku semakin bernafsu melihat liang kewanitaannya yang merah mengkilat. Dengan rakus kujilati bibir kewanitaan Mbak Menik. “Aaahh.. Ohhh.. enaakkk Diik.. Yaakh.. teruusss..” Kemudian lidahku kujulurkan ke dalam dan kutelan habis cairan maninya. Sekitar bulu kemaluannya juga tak luput dari daerah jamahan lidahku maka kini kelihatan rapi seperti habis disisir. Klirotisnya tampak merah merekah, menambah gairahku untuk menggagahinya. “Sudaahhh Dikk.. sekarang.. ayolah sekarang.. masukkan.. aku sudah nggak tahan..” pinta Mbak Menik. Tanpa buang waktu lagi kukangkangkan kedua kakinya sehingga liang kewanitaannya kelihatan terbuka. Kemudian kuarahkan batang kejantananku ke lubang senggamanya dan agak sempit rupanya atau mungkin karena diameter kemaluanku yang terlalu lebar. “Pelan-pelan Dik, punya kamu besar sekali.. ahhh…” Dia menjerit saat kumasukkan seluruh batang kemaluanku hingga aku merasakan mentok sampai dasar rahimnya. Lalu kutarik dan kumasukkan lagi, lama-lama kupompa semakin cepat. “Oughhh.. Ahhh.. Ahhh.. Ahhh..” Mbak Menik mengerang tak beraturan, tangannya menarik kain sprei, tampaknya dia menikmati betul permainanku. Bibirnya tampak meracau dan merintih, aku semakin bernafsu, dimataku dia saat itu adalah wanita yang haus dan minta dipuaskan, tanpa berpikir aku sedang meniduri istri orang apalagi dia sedang hamil. “Ouuhh Diik.. Mbak mau kelu.. aaahhh…” Dia menjerit sambil tangannya mendekap erat punggungku. Kurasakan, “Seerrr… serrr..” ada cairan hangat yang membasahi kejantananku yang sedang tertanam di dalam kemaluannya. Dia mengalami orgasme yang pertama. Aku kemudian menarik lepas batang kejantananku dari kemaluannya. Aku belum mendapat orgasme. Kemudian aku memintanya untuk doggy style. Dia kemudian menungging, kakinya dilebarkan. Perlahan-lahan kumasukkan lagi batang kebanggaanku dan, “Sleeep..” batang itu mulai masuk hingga seluruhnya amblas lalu kugenjot maju mundur. Mbak Menik menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan batang kejantananku. “Gimaa.. Mbaak, enak kan?” kataku sambil mempercepat gerakanku. “Yahhh.. ennakk.. Dik punyaa kamu enak banget.. Aahhh.. Aaah.. Uuuhh.. Aaahh.. ehhh..” Dia semakin bergoyang liar seperti orang kesurupan. Tanganku menggapai buah dadanya yang menggantung indah dan bergoyang bersamaan dengan perutnya yang membuncit. Buah dada itu kuremas-remas serta kupilin putingnya. Akhirnya Aku merasa sampai ke klimaks, dan ternyata dia juga mendapatkan orgasme lagi. “Creeett.. croottt.. serrr..” spermaku menyemprot di dalam rahimnya bersamaan dengan maninya yang keluar lagi. Kemudian kami ambruk bersamaan di ranjang. Aku berbaring, di sebelah kulihat Mbak Menik dengan wajah penuh keringat tersenyum puas kepadaku. “Terima kasih Dik, saya sangat puas dengan permainanmu,” katanya. “Mbak, setelah istirahat bolehkah saya minta lagi?” tanyaku. “Sebenarnya saya juga masih pengin, tapi kita sarapan dulu kemudian kita lanjutkan lagi.” Akhirnya selama 2 hari sabtu dan minggu aku tidak keluar rumah, menikmati tubuh montok Mbak Menik yang sedang hamil 4 bulan. Berbagai gaya kupraktekkan dengannya dan kulakukan di kamar mandi, di dapur dan di meja makan bahkan sempat di halaman belakang karena rumahku dikelilingi tembok. Di tanah kubentangkan tikar dan kugumuli dia sepuasnya. Pada istriku kutelepon kalau aku ada tugas luar kota selama 2 hari, pulangnya hari Senin. Mbak Menik bilang selama 2 hari itu dia betul-betul merasakan seks yang sesungguhnya tidak seperti saat dia bersetubuh dengan suaminya yang asal tubruk lalu KO. Dan Dia berjanji kalau sedang mengunjungi suaminya, dia akan menyempatkan meneleponku untuk minta jatah dariku. Minggu malam kuantarkan dia ke kost suaminya tapi hanya sampai ujung gang dan tidak lupa kuberi dia uang sebesar Rp 500.000,- sebagai bantuanku pada anaknya yang sedang di rumah sakit. Setelah istriku balik ke rumah, dia menghubungiku lewat telepon di kantor dan ketemu di terminal. Kami melakukan persetubuhan disalah satu hotel murah di Surabaya atau kadang di Pantai Kenjeran kalau malam hari. Hingga kehamilannya menginjak usia 7 bulan kami berhenti, hingga sekarang dia belum memberi kabar, kalau dihitung anaknya sudah lahir dan berusia 6 bulan.
Photobucket
Read More

Popular Posts

Post by Label 2



Facebook Fanpage

Post by Label 1

Post by Label 3

Blogroll

IP MU

IP
 

Copyright © 2009 by EXYEZET


Powered by Blogger | Green Magazine by EXYEZET